• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Kamis, 29 September 2022

Opini

Kal‏au Boleh Beragam kenapa Harus Seragam?

Kal‏au Boleh Beragam kenapa Harus Seragam?
llustrasi keberagaman pendapat. (Foto: NU Online)
llustrasi keberagaman pendapat. (Foto: NU Online)

Oleh: Vivi Nafidzatin Nadhor *)

Jagat maya dihebohkan kasus hangat hari ini, yaitu komentar cukup kasar Eko Kuntadhi terhadap potongan video Ning Imaz Fatimatuz Zahro sebelum memahami. Boro-boro tabayyun untuk bertanya apa maksud video yang disampaikan Ning Imaz, Eko justru dengan lantang nyerocos tanpa adab.


Ah! Rasanya kita semua tidak boleh membiarkan kejadian ini begitu saja. Kita bisa belajar darinya, bahwa jangan menonton sepotong video lalu terburu-buru mengambil kesimpulan. Tonton sampai tuntas, lalu jika ada yang tidak sependapat bisa disampaikan dengan sepenuh adab melalui jalur pribadi.


Bahwa berbeda pendapat itu sangat boleh, ribuan tahun yang lalu disabdakan:

"اختلاف امتي رحمة"


Artinya: “Perbedaan yang ada pada ummatku adalah rahmat”.


Tidak terbayang betapa bosannya jika semua yang ada di dunia ini sama. Dari zaman dulu kita memang selalu akan bertemu hal yang berbeda, baik dari segi fisik maupun pemikiran.


Hukum fiqih yang digunakan untuk landasan beribadah tiap hari saja beragam, dipilih sesuai keadaan. Misalnya, hukum asal shalat yaitu harus dilaksanakan dengan berdiri, tapi yang namanya hukum otomatis akan berbeda dalam penerapan. Jika orang yang akan shalat sedang sakit, maka diperbolehkan shalat sambil duduk. Dan seterusnya.


Islam tidak sekaku itu. Tidak memaksa semua sama tanpa tapi. Imam Syafii berkata: Kita hidup di dunia perlu mempunyai kecerdasan atau skill bersatu dalam perbedaan.


Perbedaan itu direstui agama, yang tidak diperbolehkan adalah terpecah akibat beda pendapat yang disebabkan sikap atau kalimat terlontar kasar.


Diam saat belum paham termasuk tanda kesiapan seseorang dalam memanfaatkan media sosial. Pengguna media sosial di Indonesia kini mencapai 191,4 juta. Meski banyak orang punya medsos, namun beberapa dari mereka belum tentu siap bermedsos.


Maka, jika belum mampu beradaptasi dengan perbedaan, setidaknya kita cukup menarik diri dan diam. Rasulullah SAW bersabda:
 

وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَليَــقُلْ خَــــيْرًا أَوْ لِيَـصـــمُــتْ


Artinya: “Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah dia berkata yang baik atau diam.” (HR Bukhari).


Terlepas dari hal itu, apa yang kita unggah di media sosial bisa saja sementara, tetapi screenshot atau tangkap layar itu abadi, untuk nantinya bisa dijadikan modal untuk menghakimi. Maka pikirkan seribu kali sebelum berkomentar. Keeksisan di jagat maya tidak akan aman lagi jika sampai keliru fatal.


*) Vivi Nafidzatin Nadhor, Dewan Pengasuh di Pondok Pesantren Annuqayah Latee I Guluk-Guluk Sumenep, sekaligus penulis buku ‘Pernikahan Semanis Madu, Bukan Sepahit Empedu’.


Opini Terbaru