• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Minggu, 26 Juni 2022

Opini

Membincang Kesetaraan Perempuan dalam Pendidikan

Membincang Kesetaraan Perempuan dalam Pendidikan
Islam memberikan porsi dan perhatian yang sama antara laki-laki dan perempuan. (Foto: NOJ/JCd)
Islam memberikan porsi dan perhatian yang sama antara laki-laki dan perempuan. (Foto: NOJ/JCd)

Hal yang melekat dalam diri manusia adalah dilahirkan dengan beragam latar belakang. Manusia tidak dapat menolak apa yang telah digariskan, termasuk dalam memilih jenis kelamin. Dengan demikian, tidak ada pilihan apakah terlahir sebagai laki-laki maupun perempuan dan hal tersebut menjadi kenyataan yang harus diterima.


Islam memberikan porsi dan perhatian yang sama dan tentu saja tidak membedakan antara bani Adam dan Hawa, semua diperlakukan sama. Semangat egaliter ini juga yang diperjuangkan Nabi Muhammad SAW kala awal kali berdakwah  di kalangan Arab. Membuang jauh-jauh budaya jahiliyah yang antara lain memberikan stigma buruk kepada anak perempuan, bahkan tidak menginginkannya dengan membunuh dalam posisi hidup lantaran dianggap sebagai aib keluarga.


Semangat kesetaraan atau egaliter inilah yang ditawarkan Islam saat pertama kali dikenalkan kepada masyarakat Arab kala itu. Meski semula mendapat perlawanan, tetapi akhirnya dapat diterima dan menjadi pembeda dengan kepercayaan dan tradisi sebelumnya. Ujungnya, kesetaraan itu juga yang memacu semangat perempuan untuk menambah pengetahuan dan mengasah keterampilan sehingga kiprahnya dapat dirasakan hingga kini.


Kendati semangat kesetaraan tersebut telah didengungkan beberapa abad silam, namun dalam praktiknya ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Di berbagai kawasan masih terjadi stigma dan perlakukan yang tidak menggembirakan terhadap perempuan.


Di Indonesia sendiri, ikhtiar agar perempuan memiliki peran dan kedudukan yang setara juga harus diperjuangkan dengan sangat keras. Lahirnya istilah emansipasi wanita yang digaungkan oleh Raden Ajeng (RA) Kartini menjadi salah satu penanda, bahwa memperjuangkan kesetaraan tersebut masih menimbulkan resistensi atau perlawanan. Baik dari pribadi maupun anggapan masyarakat secara umum. 


Pesan Egaliter dalam Al-Qur’an
Sebagai negara dengan memiliki jumlah penduduk Muslim terbanyak di dunia, sudah selayaknya wacana dan kesadaran terkait pesan agama juga didengungkan. Hal ini penting agar umat Islam di Indonesia memiliki kesadaran yang utuh akan pesan yang telah disampaikan, salah satunya adalah dalam kitab suci, Al-Qur’an. 


Sekadar menyebutkan, Islam juga mengajarkan kesetaraan hak melalui surat Al-Baqarah ayat 228 dan surat An-Nahl ayat 97. Secara umum, kedua ayat tersebut menyampaikan pesan bahwa laki-laki dan perempuan memiliki hak dan kewajiban yang sama dan mendapat imbalan yang sepadan pula.


Selain itu, perempuan juga memiliki kesamaan hak dengan laki-laki dalam ranah politik, seperti dalam surat At-Taubah ayat 71. Ayat ini menjadi sinyalemen bagi laki-laki dan perempuan untuk melakukan kerja sama dalam berbagai sektor kehidupan, termasuk memberikan kritik dan saran kepada penguasa (amar ma'ruf nahi munkar). Islam juga agama pertama yang memberi hak perempuan untuk memiliki dan mewarisi kekayaan atau harta benda.


Dengan demikian, sudah sangat jelas bahwa Islam menawarkan kesetaraan kepada perempuan. Dukungan tersebut demikian nyata baik dalam sejumlah ayat dan perilaku yang dicontohkan Nabi Muhammad SAW. 


Pesan Kesetaraan dalam Pendidikan
Dalam hal pendidikan, Islam bukan hanya memberikan hak, tetapi sudah menjadi kewajiban dan tanggung jawab seorang laki-laki dan perempuan. Karenanya, perempuan masa kini sudah selayaknya ikut andil untuk kemaslahatan umat salah satunya dalam hal pendidikan.  


Meski demikian, masih banyak problematika dan tantangan yang harus dilewati oleh perempuan. Sebagai perempuan berketurunan Jawa, kebanyakan turut merasakan diskriminasi terhadap perempuan. Bagaimana tidak, setelah beranjak dewasa, perempuan Jawa dituntut menjadi seorang yang mampu melayani. Maksudnya di sini adalah serba bisa dan menguasai segala bentuk pekerjaan rumah, dan disiapkan untuk menjadi calon istri yang sempurna untuk suaminya kelak.


Stigma tersebut mempersempit gerak perempuan untuk terjun dalam dunia pendidikan. Apalagi, ketika memiliki mimpi untuk meneruskan pendidikan ke perguruan tinggi selalu dipatahkan dengan stereotype khas Jawa yakni ‘3 M’yakni masak, macak, dan manak dalam artian tugas perempuan hanyalah memasak, bersolek, dan melahirkan anak. Sebuah pembagian tugas yang membuat miris.


Padahal pendidikan bagi perempuan tidak hanya penting bagi karier, tetapi juga dapat menunjang kaum perempuan sebagai seorang ibu. Dalam  menjalankan peran sebagai ibu, mereka dituntut mampu menjadi pendidik utama bagi anak-anaknya. Perempuan juga harus mengetahui porsi yang tepat untuk sang buah hati sesuai dengan perkembangan zaman, dengan harapan mampu menciptakan generasi muda yang kreatif, inovatif, berprestasi, edukatif dan produktif.


Oleh karena itu, perempuan perlu ruang dan dukungan agar memiliki akses seluas-luasnya dalam memperoleh pendidikan, tentunya dengan tidak mengurangi kewajibannya sebagai madrasatul ula atau sekolah pertama bagi anak-anaknya. Sehingga, perempuan mampu mengeksplorasi kelebihan dan kemampuannya dengan tetap menjalankan peran serta tugasnya dengan lebih luwes.


Selain itu, semakin tinggi pendidikan perempuan juga akan memberikan dampak untuk kemajuan dan perkembangan pembangunan nasional. Karena dengan pendidikan yang lebih tinggi, perempuan dapat mengeksplorasi secara lebih kemampuan dan potensinya. Seperti ikut andil dan mengambil peran dalam menentukan kebijakan, menciptakan lapangan kerja yang lebih ramah untuk sesama perempuan dan lain sebagainya.


Karenanya, sudah saatnya perempuan berani bersuara, menyamakan pendapat dan berjalan sejajar dengan laki-laki. Kesetaraan seperti ini tidak perlu lagi diperdebatkan, yang terpenting adalah bagaimana cara untuk memajukan kehidupan bangsa dan berkontribusi untuk pembangunan nasional.

 

Ika Nur Fitriani adalah mahasiswa Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Blitar dan Ketua Pimpinan Komisariat Perguruan Tinggi (PKPT) Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) di kampus yang sama.  


Editor:

Opini Terbaru