• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Minggu, 27 November 2022

Pustaka

Jalan Hening Gelorakan Spirit Perjuangan

Jalan Hening Gelorakan Spirit Perjuangan
Buku antalogi puisi Surau Kami PMII. (Foto: NOJ/ Rahma Salsabila)
Buku antalogi puisi Surau Kami PMII. (Foto: NOJ/ Rahma Salsabila)

Lumrahnya, mahasiswa Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) identik dengan spirit yang berkobar dan suara yang lantang dalam menggelorakan perjuangan. Tetapi, PMII Pasuruan menyajikan cara baru dalam berjuang melewati keheningan, yang kemudian terekam dalam sebuah antalogi puisi pergerakan dengan judul Surau Kami "PMII".


Tidak dipungkiri, pada halaman pertama saja pembaca akan ditarik untuk merasakan kembali saat-saat berproses di PMII, atau diberi gambaran perjuangan ber-PMII bagi beberapa orang yang masih awam akan organisasi pergerakan di bawah naungan NU tersebut.


Lebih rinci, selain bertemakan perjuangan, puisi yang diangkat juga memiliki tema loyalitas, kebersamaan, serta pemaknaan terhadap sebuah proses panjang. Diksi yang digunakan oleh setiap penulis juga terbilang sederhana tanpa mengurangi estetika kata. Sehingga puisi-puisi ini bisa dibaca dalam berbagai keadaan. Saat memiliki waktu panjang untuk beristirahat maupun rehat sejenak dari pekerjaan.


Salah satu bait yang menarik dari puisi berjudul Syukuri, Nikmati, Berbagi yang ditulis oleh Abdul Qohar berbunyi:


Alam perjuangan tembuskan ekspresi
Lidah kajian gugah nurani
Bursa dunia kampanyekan sensasi
Ajikan diri sesuai porsi
Bumikan PMII mengawal NKRI


Lewat penggalan tersebut, pembaca bisa mendapatkan kembali semangat yang utuh dalam dirinya. Lebih dari itu, pada beberapa bagian terdapat kutipan berupa ayat Al-Qur'an hingga kalimat dari tokoh-tokoh PMII, seperti H Mahbub Djunaidi yang merupakan Ketua pertama PMII sekaligus Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) tahun 1984-1989 dengan kalimatnya 'Tanamkan ke kepala anakmu bahwa hak asasi itu sama pentingnya dengan sesuap nasi'.


Buku antologi puisi ini menurut Sudiono Fauzan menjadi penanda zaman, yakni sebuah upaya untuk mencatat dan mengabadikan perjuangan serta pergerakan PMII agar tidak rapuh dan hilang seiring berjalannya waktu.


Seperti ungkapan, bahwa setiap orang meninggal dua kali dalam hidupnya. Pertama saat kehilangan nyawa, dan kedua saat orang terakhir yang mengenal menyebut nama kita untuk terakhir kalinya. Dan, karya sastra semacam ini merupakan upaya untuk memperpanjang eksistensi manusia di dunia.


Kelebihan lain dari buku ini adalah sampul bukunya yang berwarna hitam dan menggambarkan siluet, selaras dengan nilai karya sastra yang terkandung di dalamnya. Selayaknya misteri dalam sebuah puisi, perlu perenungan untuk memahami makna yang sajikan.


Jadi, selamat membaca!

 

Identitas Buku

Judul: Surau Kami ‘PMII’
Penulis: Makhfud Syawaludin, dkk
Tahun Terbit: Mei 2017
Penerbit: Literasi Nusantara
Tebal: 112 Halaman
Peresensi: Rahma Salsabila, Mahasiswi STAI Salahuddin Pasuruan dan Anggota Lembaga Jurnalistik PC IPPNU Kabupaten Pasuruan.


Pustaka Terbaru