• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Senin, 30 Januari 2023

Pustaka

Menguak Kebersamaan NU dan Muhammadiyah dalam Bingkai NKRI

Menguak Kebersamaan NU dan Muhammadiyah dalam Bingkai NKRI
Buku tentang NU dan Muhammadiyah. (Foto: NOJ/ Firdausi)
Buku tentang NU dan Muhammadiyah. (Foto: NOJ/ Firdausi)

Buku ini menguak peran kebersamaan Muhammadiyah (1912) dan Nahdlatul Ulama (1926) dalam mengawal keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Dalam tinta sejarah kemerdekaan, kedekatannya bisa dilihat di masa penjajahan.


NU mendirikan Nahdlatul Wathan, Nahdlatut Tujjar, Taswirul Afkar yang didirikan oleh KH Abdul Wahab Chasbullah. Sedangkan Kiai Mas Mansur di Muhammadiyah, mendirikan Majelis Islam A’la Indonesia (MIAI) yang kelak bermetafora menjadi Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi).


Kedua Ormas ini menyatukan diri menggalang persatuan untuk melawan penjajah. Bahkan di masa kini, seorang ahli mengibaratkan dua sayap burung garuda yang menjadi pelopor dan memberi kontribusi besar pada negeri ini lewat pendidikan, kesehatan, ekonomi, pertanian, kesenian dan kebudayaan.


Secara nasab, KH Ahmad Dahlan dan Hadratussyekh KH M Hasyim Asy’ari sama-sama keturunan Walisongo. Kiai Dahlan keturunan Maulana Malik Ibrahim (Sunan Gresik). Sedangkan Kiai Hasyim Asy’ari keturunan Muhammad Ainul Yakin (Sunan Giri).


Secara sanad keilmuan, buku ini menegaskan bahwa kedua muassis Ormas tersebut sama-sama berguru pada KH Shaleh Darat Semarang, Syekh Khatib Al-Minangkabawi, Syekh Nawawi Al-Bantani.


Tak heran, model kepemimpinannya yang transformatif, mampu mengimplementasikan dakwahnya yang santun. Kiai Hasyim Asy’ari membangun pesantren di Tebuireng, Jombang yang dikenal pusat dunia hitam dengan berbagai jenis kemaksiatan. Sedangkan Kiai Dahlan mensyiarkan Islam di Yogyakarta yang menjadi pusat kesultanan.


Jika ditelisik lebih dalam, tokoh lainnya yang dikupas oleh penulis adalah Kiai Mas Mansur masih termasuk ke dalam keluarga Sagipodin (Bani Gipo). Kedua cucu Sagipodin menjadi tokoh penting, salah satunya Kiai Hasan Gipo Ketua Umum Tanfidziyah NU pertama.


Dikisahkan pula, penulis juga menelaah relasi Islam dengan budaya lokalnya. Sebut saja pemikiran Gus Dur yang mempertahankan semangat tradisionalismenya.


Kefigurannya yang kharismatik dan nyentrik ini berhasil menembus wacana modernitas tanpa meninggalkan tradisi Islam klasik. Berbeda dengan Kuntowijoyo seorang perumus sosial profetik guna mengukuhkan spirit modernisme dengan menawarkan demistifikasi dan desakralisasi budaya.


Dengan demikian, kedua Ormas ini berkembang di Indonesia sebagai respons terhadap problematika kebangsaan. Hingga saat ini, role model keorganisasiannya memberi spirit keagamaan yang moderat dan toleran terhadap perbedaan.


Tak heran, banyak umat Islam di Indonesia menggunakan kendaraan ini untuk berkhidmat guna mengharap berkah, menjaga bangsa dari perpecahan dan membangun peradaban hingga ke kancah global.


Keberadaannya di akar rumput, tidak berjalan sendiri-sendiri. Menurut penulis, perbedaan bagian dari warna dan pedoman untuk mempererat ukhuwah. Meningkatnya ragam ijtihad dari ulama, muncullah kesadaran untuk saling menghargai persoalan khilafiyah.


Alhasil, hasrat dan animo masyarakat yang sangat besar pada amaliyah, kebudayaan tetap dipertahankan. Misalnya syafaat, karamah, berkah, hizib, sarung, kopiah, pencak silat, keris, dan lainnya.


Gerakan kultural yang dilakukannya, penulis memahaminya sebagai harakah yang memperhatikan potensi dan kecenderungan manusia sebagai makhluk hidup yang berbudaya luas.


Cirinya yang dinamis, kontekstual, dan inovatif, menebar manfaat pada masyarakat, seperti mendirikan lembaga pendidikan, layanan kesehatan, bantuan hukum, dan sebagainya.


Diketahui, komposisi penulis buku ini, berangkat dari jenjang sarjana, magister, dan doktoral. Baik dari kalangan mahasiswa, sastrawan, tenaga pendidik di sekolah maupun perguruan tinggi, pengurus Muhammadiyah dan NU.


Identitas Buku

Judul Buku: Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama: Berkhidmat Bersama Memajukan Indonesia

Penulis: Iwan Kuswandi dkk

Penerbit: Mata Kata Inspirasi

Tahun Terbit: Oktober 2022

ISBN: 978-623-8008-12-4

Tebal Buku: 230 halaman

Peresensi: Firdausi, Ketua Lembaga Ta'lif wan-Nasyr Nahdlatul Ulama (LTNNU) Sumenep


Editor:

Pustaka Terbaru