• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Rabu, 8 Februari 2023

Pustaka

Rekam Jejak Ulama Madura; Kera Mengaji dan Kisah-kisah Lainnya

Rekam Jejak Ulama Madura; Kera Mengaji dan Kisah-kisah Lainnya
Buku Kera Pun Bisa Mengaji, Rekam Jejak Sejarah Islam di Madura. (Foto: NOJ/ Firdausi)
Buku Kera Pun Bisa Mengaji, Rekam Jejak Sejarah Islam di Madura. (Foto: NOJ/ Firdausi)

Buku ini mengisahkan peran ulama dan perjalanan Islam di Madura sejak zaman kerajaan, penjajahan, awal kemerdekaan (Orde Lama), Orde Baru, sampai pasca reformasi. Walaupun tidak sepenuhnya lengkap, buku ini memotret kiprah dan perjuangan ulama dalam mensyiarkan Islam di Sumenep dari tahun 1750-2014 M.


Dalam buku ini, penulis lebih banyak menggunakan pendekatan biografi tokoh yang sengaja dipilih untuk menguak sepak terjang kiai pesantren, kiai organisasi sosial keagamaan, kiai penulis, dan kiai politisi. Beberapa tokoh yang tertuang dalam buku ini tercatat sebagai keturunan Walisongo, terutama Sunan Giri dan Sunan Kudus. Semuanya pernah mengenyam pendidikan di tanah Hijaz.


Selain itu, pernah pula ditempa di pesantren ternama di tanah Jawa. Sebut saja Pesantren Sidogiri Pasuruan, Tebuireng dan Paterongan Jombang, Paiton Probolinggo, Siwalan Panji Sidoarjo, Gontor Ponorogo dan lainnya.


Tidak sedikit di antara tokoh itu pernah mengenyam pendidikan di pesantren Madura. Di antaranya, Pesantren Syaikhona Kholil Bangkalan, Pesantren Annuqayah Sumenep, Pesantren Bata-Bata Pamekasan, Pesantren Karay Ganding, dan Pesantren Kiai Abu Sudjak Kebunagung Sumenep.


Kealiman dan kharismatiknya, dijadikan pegangan masyarakat sebagai guru spiritual, pemimpin pemerintah, dan memiliki karya yang sampai detik ini dijadikan rujukan oleh kaum sarungan.


Salah satu tokoh yang menginspirasi penulis dan dijadikan judul bukunya adalah Kiai Ali Barangbang bin Kiai Hatib Paddusan bin Sayyid Baidhawi (Pangeran Katandur) bin Panembahan Pakaos bin Sayyid Jakfar Shodiq (Sunan Kudus). Jenazahnya dikebumikan di Asta Ghumok Dusun Barangbang Desa Kalimook, Kalianget, Sumenep, tepatnya di sebelah timur lapangan terbang Trunojoyo Sumenep.


Diceritakan, setelah mendirikan langgar atas pemberian saudagar China, banyak masyarakat memasrahkan anaknya untuk belajar mengaji, termasuk anak Raja Sumenep kala itu yang belajar mengaji di sana.


Konon, anak raja itu sering dimarahi dan dipukul karena sulit menangkap ilmu yang diajarkan. Merasa malu, ia mengadukan sikap Kiai Ali pada ayahnya. Seketika Raja memerintahkan prajurit untuk memanggil guna mengklarifikasi akan kebenarannya. Raja pun merasa malu dan memberinya sebuah tantangan untuk mengajari seekor kera agar bisa mengaji dalam kurun waktu 40 hari.


Setiap malam, kera diajak memancing. Hingga suatu malam, Kiai Ali memberi tali tambang yang terbuat dari serabut kelapa dan mengikatnya di jari kera, lalu dibakar. Anehnya, saat api sampai pada jari kera, tiba-tiba kera itu bisa berbicara. Bahkan bisa mengaji. (Hal. 6)


Tiba saatnya, Kiai Ali menunjukkan kemampuan kera yang mengaji dengan indah sambil melihat Al-Qur'an. Kejadian itu disaksikan punggawa kerajaan keraton. Peristiwa di luar nalar itu menjadi latar belakang pesantrennya diberi nama Barangbang.


Selain kisah Kiai Ali, penulis mengupas biografi Raden Bindhara Moh Saud (Raja ke-30), Sultan Abdurrahman (Raja ke-32), KH Zainal Arifin, KH Usymuni (semua asal Pesantren Tarate), KH M Ilyas Syarqawi, KH Abdullah Sajjad, KH M Amir Ilyas dan KH A Warits Ilyas (semua dari Pesantren Annuqayah), KH Dahlan Imam (Pesantren Karay), dan Kiai Asnawi Imam (tokoh NU di Jambu, Lenteng).


Ada pula biografi KH Abu Sudjak (muassis NU Sumenep dan pengasuh pesantren), KH Ali Wafa (Pesantren Ahlussunnah wal Jamaah Ambunten), KH Tidjani Djauhari, KH Idris Djauhari dan KH Jamaluddin Kafie (semua asal Pesantren Al-Amien), dan KH Bahaudin Mudhary (Pesantren di Kepanjin, Sumenep).


Selanjutnya, KH Abdullah Husain (Pesantren Mathali'ul Anwar Pangarangan), KH R Abd Syakur (majelis fatwa, khatib dan imam Masjid Agung Sumenep), Habib Muhsin Al-Hinduan (mursyid thariqah Naqsyabandiyah), Kh Mu'min Hanafi (Pesantren Raudhatut Thalibin Kolor), KH M Habibullah Rais (Pesantren Al-Is'af Kalabaan), dan KH Ahmad Fauzi Sirran (Pesantren Al-Ihsan Jaddung).


Dari semua tokoh itu, penulis menegaskan bahwa ulama-ulama tersebut model kerjanya langitan atau senyap), yakni beramal dalam sepi dan bergerak dengan ikhlas. Denyut dan detak amal salehnya mengalir deras dalam tubuh umat.
 

Identitas Buku:

Judul Buku: Kera Pun Bisa Mengaji, Rekam Jejak Sejarah Islam di Madura
Penulis: Iwan Kuswandi
Penerbit: Lembaga Ladang Kata
Tahun Terbit: September 2015
Tebal Buku: 173 Halaman
ISBN: 978-602-1093-26-9
Peresensi: Firdausi, Ketua Lembaga Ta'lif wan-Nasyr Nahdlatul Ulama (LTNNU) Sumenep.


Pustaka Terbaru