Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Keislaman Tokoh Khutbah Opini Nusiana Rehat Jujugan Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Imsakiyah

Alumni Pesantren Ini Sukses Geluti Bisnis Kopi Hingga Luar Pulau

Alumni Pesantren Ini Sukses Geluti Bisnis Kopi Hingga Luar Pulau
Ida Irawati, pengusaha Tutur Coffee. (Foto: NOJ/opopjatim)
Ida Irawati, pengusaha Tutur Coffee. (Foto: NOJ/opopjatim)

Pasuruan, NU Online Jatim

Minuman kopi memiliki prospek bagus dalam dunia usaha. Pasalnya kopi menjadi minuman favorit di berbagai kalangan. Selain itu, kini kopi diracik sedemikian rupa sehingga menghasilkan banyak varian rasa.

 

Peluang ini dimanfaatkan oleh Ida Irawati, seorang alumni salah satu pesantren di Jawa Timur yang telah menggeluti usaha kopi sejak tahun 2015. Awalnya Ida Irawati memilih usaha tersebut lantaran melihat potensi komoditas kopi di lereng Gunung Bromo. Terletak di Kecamatan Tutur, Kabupaten Pasuruan diakui Ida jika daerahnya memiliki segudang potensi alam. Selain dikenal dengan agrowisata petik apel dan aneka hortikultura, wilayah ini juga punya komoditas kopi unggulan.

 

“Kebetulan di sini memiliki tanaman kopi unggulan, maka dari itu saya memanfaatkan peluang tersebut. Dulu para petani setelah panen langsung dijual sehingga untungnya sedikir. Maka dari itu saya berinovasi membuat racikan kopi lokal dan premium,” katanya, Senin (24/05/2021).

 

Letak geografis yang berada di ketinggian 900-950 mdpl menurut Ida membuat varietas robusta tumbuh subur di daerah tersebut. Karakter rasanya pun jadi lebih strong dan nikmat. Apalagi, kopi robusta memang paling baik ditanam di atas ketinggian 300 mdpl. Menurut pemilik Tutur Coffee ini pun keistimewaan lain dari kopi ini sendiri adalah adanya notes sweet.

"Kalau karakteristik kopi lereng Bromo biasanya hanya caramelized dan spice, sedangkan kalau kopi Tutur ini ada manisnya juga," ungkapnya.

 

Tak hanya kopi robusta saja, Ida juga menanam kopi Arabika di kebun kopinya.

 

“Agar cita rasanya lebih maksimal, kopi tutur arabika ini diseduh menggunakan metode V60. Selain itu, tersedia pula kopi blend yang terdiri dari perpaduan keduanya. Ada juga kopi robusta yang diolah dengan fermented process dan varian green coffee. Kami menjualnya dalam bentuk bubuk dan beans. Semua varian dijual seharga Rp 20 ribu per 100 gram,” jelasnya.

 

Hadirnya One Pesantren One Product (OPOP) Jatim, menurutnya sangat bermanfaat untuk para UMKM di lingkup pesantren. Sebagai bagian dari sociopreneur, Ida mengaku OPOP sangat berdampak untuk usaha yang ia rintis bersama sang suami tersebut. Seperti kopi tuturnya semakin dikenal baik skala lokal maupun nasional.

 

“Berkat OPOP kopi saya makin dikenal. Saya pun pernah diajak oleh tim OPOP Jawa Timur menjadi perwakilan dalam acara misi dagang di NTT, sekaligus saya juga pernah diundang di acara Jatim Fair tahun lalu. Terimakasih untuk Ibu Gubernur Khofifah yang telah melahirkan OPOP, dimana membuat kita para alumni pesantren, para santri semakin maju melek ekonomi,” pungkasnya.

Bank Jatim (31/7)