Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Keislaman Tokoh Khutbah Opini Nusiana Rehat Jujugan Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka

Candi Tikus Mojokerto dan Kejayaan Kerajaan Majapahit

Candi Tikus Mojokerto dan Kejayaan Kerajaan Majapahit
Candi Tikus di Dukuh Dinuk, Desa Temon, Trowulan, Mojokerto. (Foto: NOJ/FAn)
Candi Tikus di Dukuh Dinuk, Desa Temon, Trowulan, Mojokerto. (Foto: NOJ/FAn)

Mojokerto, NU Online Jatim

Libur telah tiba, hatiku gembira. Itu sedikit cuplikan lagu yang biasanya dinyanyikan sejumlah kalangan saat liburan panjang. Namun seiring dengan diberlakukannya normal baru, liburan kali ini tidak sama dengan sebelumnya. Harus menghindari keramaian agar virus Corona tidak menyebar.

 

Namun keinginan untuk pelesir hendaknya tidak terganggu meski harus ekstra waspada. Yang bisa dilakukan adalah memastikan lokasi wisata yang cenderung sepi pengunjung seperti candi.

 

Ditemukannya Candi Tikus

Kemegahan dan kebesaran Kerajaan Majapahit hingga kini masih terus diteliti oleh sejumlah arkeolog dan ilmuwan. Jejak sejarah yang bisa dilihat salah satunya ada di Kecamatan Trowulan, Mojokerto.

 

Disebut-sebut sebagai Ibu Kota Kerajaan Majapahit, Candi Tikus ditemukan di Dukuh Dinuk, Desa Temon, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto.

 

Bila pada umumnya candi muncul diatas permukaan tanah, berbeda dengan candi satu ini. Candi Tikus ditemukan di bawah permukaan tanah oleh warga setempat. Awalnya sejumlah warga merasa terganggu oleh banyaknya hama tikus yang merusak pertanian sehingga hasil tani menurun drastis.

 

 

Hingga pada tahun 1914, Bupati Mojokerto, RAA Kromojoyo Adinegoro pada saat itu memerintahkan aparat desa untuk membabat habis tikus yang ada, pada saat pengejaran tikus aparat desa melihat tikus-tikus masuk pada lubang di dalam gundukan tanah. Karena ingin memberantas semua tikus, Kromojoyo memerintahkan agar gundukan tersebut juga dibongkar dan ditemukanlah sebuah candi yang dinamakan Candi Tikus.

 

Candi Tikus diperkirakan dibangun pada abad ke XIII atau abad ke-XIV. Di dalam Kitab Nagarakertagama, Mpu Prapanca mengatakan bahwa dulunya candi ini adalah tempat pertitraan atau pemandian serta tempat upacara raja-raja terdahulu.

 

Denah bangunan Candi yang terbuat dari bahan batu bata merah ini berbentuk bujur sangkar dengan ukuran 22,50 x 22,50 meter persegi dan memiliki ketinggian sekitar 5,20 meter dari dasar kolam sampai pada ketinggian permukaan tanah di sekitarnya.

 

Dasar kolam berada di bawah permukaan tanah dikelilingi tembok yang disusun berteras-teras. Teras-teras tersebut disusun semakin ke dalam semakin turun. Tangga masuk terdapat pada sisi utara. Pada bagian dasar kolam ada sebuah fondasi yang terlihat menempel pada dinding kolam sisi timur.

 

 

Pada saat ini keberadaan Candi Tikus terus dilestarikan, ketika musim liburan tiba Candi ini akan dipenuhi oleh wisatawan yang berkunjung. Candi Tikus dikelilingi taman serta pepohonan yang menambah kesejukan.

 

"Saya sering ke Candi Tikus ini untuk melepas penat," ujar Maulidayanti.

 

Ingin pelesir ke sini? Silakan karena di lokasi yang tidak terlalu jauh juga banyak candi dan destinasi wisata lain. Seharian di kawasan Mojokerto sepertinya akan terwujud dengan mengunjungi dan menyaksikan sisa kejayaan Kerajaan Majapahit yang melegenda tersebut.

PWNU Jatim Harlah