Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Keislaman Tokoh Khutbah Opini Nusiana Rehat Jujugan Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Imsakiyah

Kader di Sumenep Ngaji Cerita Peralihan Syubbanul Wathon Menjadi Ansor

Kader di Sumenep Ngaji Cerita Peralihan Syubbanul Wathon Menjadi Ansor
Rofiqi, Sekretaris PAC GP Ansor Sumenep (pegang mic), saat menyampaikan materi ke-Ansor-an. (Foto: NOJ/Habib)
Rofiqi, Sekretaris PAC GP Ansor Sumenep (pegang mic), saat menyampaikan materi ke-Ansor-an. (Foto: NOJ/Habib)

Sumenep, NU Online Jatim

Sejarah itu bagaikan anak panah. Semakin ditarik ke belakang, maka ia semakin melesat jauh ke depan. Sama halnya dengan belajar sejarah tentang Gerakan Pemuda (GP) Ansor. Ketika ditarik ke belakang pengetahuan tentang ke-Ansor-an, maka rencana strategis ke depan akan semakin jelas dan kuat.

 

Penegasan ini disampaikan oleh Rofiqi, Sekretaris Pimpinan Anak Cabang (PAC) GP Ansor Bluto, Kabupaten Sumenep saat rutinan Majelis Dzikir dan Shalawat Rijalul Ansor (MDSRA) Pimpinan Ranting (PR) GP Ansor Desa Lobuk. Kegiatan ini dipusatkan di kediaman Ustadz Moh Saleh, Pembina PR GP Ansor sekaligus Kepala Desa Lobuk, di Dusun Kopao Desa Lobuk, Rabu (10/03/2021) malam.

 

Rofiqi menyebutkan, GP Ansor merupakan organisasi kepemudaan di bawah naungan Nahdlatul Ulama (NU). Disebutkan bahwa GP Ansor dikenal lahir pada tanggal 24 April 1934. Namun, cikal bakal berdirinya Ansor tidak serta merta pada tahun tersebut. "Ada banyak hal yang melatar belakangi dan cerita sejarah yang dilalui sebelum tahun 1934 tersebut," ujarnya.

 

Bermula pada tahun 1924, dua tahun sebelum NU berdiri, KH Abdul Wahab Chasbullah mendirikan sebuah organisasi yang bernama Syubbanul Wathon. Inilah embrio pertama atas kelahiran organisasi kepemudaan terbesar di Indonesia tersebut.

 

Pengurus Koordinator Cabang (PKC) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Jawa Timur tersebut menambahkan, salah satu yang melatar belakangi didirikannya Syubbanul Wathon ialah karena pada masa itu Mbah Wahab yang merupakan ulama tradisionalis banyak mengalami perbedaan pendapat dengan ulama modernis dalam aspek furu'iyah .

 

"Jadi, perbedaan-perbedaan tersebut membangkitkan ghirah, bukan membangkitkan amarah dalam diri Mbah Wahab," tukas Rofiqi.

 

Setelah Syubbanul Wathon aktif dan berjalan, terbentuklah kemudian Ahlul Wathon. Ahlul Wathon ini merupakan cikal bakal dari Barisan Ansor Serbaguna atau Banser.

 

"Dimana pada saat itu pimpinan tertingginya disebut Inspektur Pandu Ahlul Wathon, yang saat ini dikenal dengan Kepala Satuan Koordinasi Nasional (Kasatkornas)," tuturnya.

 

Pada tahun 1931, organisasi ini kemudian berganti nama menjadi Persatuan Pemuda Nahdlatul Ulama (PPNU). Namun, tidak berselang lama kembali berubah menjadi Pemuda Nahdlatul Ulama (PNU).

 

Tiga tahun kemudian, pada tahun 1934 organisasi ini kembali berganti nama menjadi Ansor Nahdlatul Oelama (ANO). Pada tahun inilah, ketika Muktamar NU ke-9 di Banyuwangi, ANO secara resmi menjadi bagian dari NU, yakni menjadi badan otonom.

 

"Penamaan Ansor di sini merupakan saran dari Mbah Wahab, sebagai bentuk tabarrukan kepada Kaum Ansor di masa Nabi, yang menjadi penolong atas perjuangan Nabi kala itu," katanya.

 

Mantan Ketua 1 Pengurus Cabang (PC) PMII Sumenep ini menambahkan, di masa penjajahan Jepang banyak organisasi kepemudaan yang diberangus, termasuk pula ANO.

 

 

Hingga kemudian, setelah kondisi Indonesia berangsur membaik, pada kisaran tahun 1949 pemuda NU bangkit dan membangun kembali ANO dengan nama baru Gerakan Pemuda Ansor atau yang saat ini familiar dengan GP Ansor.

 

"Yakni sebuah organisasi kepemudaan yang hingga saat ini istiqamah dalam mensyi'arkan Islam Ahlussunah wal Jama’ah An-Nahdliyah," pungkasnya.

 

Editor: Romza

Iklan promosi NU Online Jatim