Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Keislaman Tokoh Khutbah Opini Nusiana Rehat Jujugan Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Imsakiyah

Katib NU Tulungagung Sebut Bala Bisa Diminimalisir dengan Doa

Katib NU Tulungagung Sebut Bala Bisa Diminimalisir dengan Doa
KH Bagus Ahmadi, Katib PCNU Kabupaten Tulungagung. (Foto: NOJ/ Puspita Hanum).
KH Bagus Ahmadi, Katib PCNU Kabupaten Tulungagung. (Foto: NOJ/ Puspita Hanum).

Tulungagung, NU Online Jatim

Katib Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Tulungagung, KH Bagus Ahmadi menyebutkan bahwa bala’ yang telah ditakdirkan oleh Allah SWT kepada umat manusia dapat diminimalisir, yakni dengan doa.

 

"Doa itu mampu meminimalisir bala' yang ditimbulkan dari takdir," ujar Pengasuh Pondok Pesantren Ma'hadul 'Ilmi Wal 'Amal Tulungagung itu, Selasa (14/09/2021).

 

Oleh karenanya, kelompok Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) beranggapan bahwa doa merupakan bentuk ikhtiar manusiawi yang tidak boleh ditinggalkan. Karena ikhtiar itu penting dilakukan dalam semua hal.

 

Dirinya pun mengutip kitab Tuhfatul Murid 'Ala Jauharat Tauhid karya Syekh Ibrahim Al-Bajuri. Disebutkan bahwa doa sangat bermanfaat atas semua hal yang datang dan yang belum datang (dari langit). Bala' pun akan datang dan bertemu dengan doa itu sendiri.

 

"Jadi, seseorang tidak boleh meninggalkan doa hanya karena bersandar pada putusan qadha’, sebagaimana larangan seseorang untuk meninggalkan makan karena bersandar pada putusan Allah SWT perihal kenyang," ungkapnya.

 

Dosen Sekolah Tinggi Agama Islam Diponegoro Kabupaten Tulungagung itu menambahkan, bahwa usaha manusia yang berupa tindakan atau doa merupakan peristiwa yang telah tertulis di Lauhul Mahfudz. Tidak ada satupun peristiwa yang tidak tertulis di sana.

 

Di samping itu, ketika seorang manusia secara sadar memilih bekerja keras dan berhasil merubah kemiskinan menjadi kekayaan, pada dasarnya ia bukan mengubah takdir tapi melakukan ikhtiar. Sebab, ikhtiar itu termasuk bagian dari takdir

 

“Misal takdirnya bukan miskin, tapi belum kaya, yang kemudian dilawan hingga jadi kaya," pungkasnya.

 

Editor: A Habiburrahman


Editor:
F1 PWNU Jatim