Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Keislaman Tokoh Khutbah Opini Nusiana Rehat Jujugan Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka

Ketua PCNU Sumenep Sampaikan Pesan KH As’ad Syamsul Arifin saat Maulid Nabi

Ketua PCNU Sumenep Sampaikan Pesan KH As’ad Syamsul Arifin saat Maulid Nabi
KH Pandji Taufiq, Ketua PCNU Sumenep saat menyampaikan sambutan dalam perayaan Maulid Nabi Muhammad Saw sekaligus ‘rokat desa’ di Pondok Pesantren Agung Damar, Sabtu (31/10/2020) pagi. (Foto: NOJ/ Ach Khalilurrahman).
KH Pandji Taufiq, Ketua PCNU Sumenep saat menyampaikan sambutan dalam perayaan Maulid Nabi Muhammad Saw sekaligus ‘rokat desa’ di Pondok Pesantren Agung Damar, Sabtu (31/10/2020) pagi. (Foto: NOJ/ Ach Khalilurrahman).

Sumeneo, NU Online Jatim

Saat ini, eksistensi Nahdlatul Ulama di Sumenep tak lagi hanya berpusat di kabupaten dan kecamatan, melainkan merata hingga ke desa-desa. Hampir semua desa di Kota Keris telah terbentuk kepengurusan rantingnya, bahkan ada pula yang sampai ke anak ranting di tingkat dusun. Tak hanya sebatas struktur, kegiatan keagamaan maupun sosial juga sudah mulai diprogramkan. Salah satunya seperti yang dilakukan Pengurus Ranting NU Desa Pakamban Daya, Kecamatan Pragaan, Kabupaten Sumenep.

 

Pengurus Ranting yang dipimpin K Mas'udi Shabri ini menggelar perayaan Maulid Nabi Muhammad Saw sekaligus ‘rokat desa’ di Pondok Pesantren Agung Damar, Sabtu (31/10/2020) pagi. Acara tersebut dihadiri KH Pandji Taufiq, Ketua Tanfidziyah PCNU Sumenep dan KH Hafidzi Syarbini, Rais Syuriyah PCNU Sumenep, Pengurus MWCNU Pragaan, kepala desa beserta aparat, serta ribuan nahdliyin-nahdliyat di desa tersebut.

 

"Atas nama panitia, kami berterima kasih banyak kepada para pengurus NU, lembaga dan badan otonom dari cabang hingga ranting atas kehadirannya di tempat ini," ujar K Mas'udi Shabri saat memberikan sambutan.

 

Ia juga meminta maaf atas segala kekurangan mengingat persiapan yang kurang begitu maksimal. "Kami tak menyangka yang hadir akan sebanyak ini," lanjutnya.

 

Selanjutnya, pengasuh Ponpes Agung Damar ini memohon doa agar pesantren yang dipimpinnya senantiasa dapat melahirkan generasi pejuang NU di masa yang akan datang. "Atas nama shahibul bait, kami mohon doa semoga lembaga ini menjadi madinatul 'ilmi (kotanya ilmu) serta mampu melahirkan tokoh-tokoh yang dapat memperjuangkan NU baik lahir maupun batin," pungkas tenaga pengajar  Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-Guluk ini di akhir sambutannya.

 

Sementara itu, KH Pandji Taufiq saat menyamapaikan sambutan dalam acara tersebut memberikan apresiasi kepada kader yang telah mengabdi demi kemajuan NU. "Bersyukurlah apabila ada salah satu dari anggota keluarga kita aktif di NU. Karena NU berbeda dengan perkumpulan yang lain," ujarnya.

 

Selanjutnya, alumni Ponpes Annuqayah Guluk-Guluk Sumenep ini menambahkan, ketika seseorang aktif berkecimpung di NU, maka akan lebih sering berkumpul dengan orang saleh serta para ulama.

 

Selain itu, Kiai Pandji juga menyampaikan pesan KH As'ad Syamsul 'Arifin kepada jamaah yang hadir. "Kiai As'ad pernah dawuh 'Tolong NU jha' kalakeh, tape kabinih' (Tolong NU jangan jadikan suami, tapi jadikan istri, red). Ketika NU dijadikan istri, maka kita wajib memberikan nafkah, bukan selalu meminta," paparnya.

 

Dalam kesempatan yang sama, KH Hafidzi Syarbini mengingatkan jamaah tentang faedah berkumpul. "Al-jama'atu rahmatun, berjamaah atau berkumpul itu adalah rahmat," tuturnya.

 

Menurutnya, berkumpul saja meski tanpa melakukan apa-apa itu sudah membawa rahmat. "Apalagi kalau sampai diisi dengan kegiatan lain yang positif seperti membaca shalawat, tahlil, ataupun yang lainnya layaknya kegiatan-kegiatan NU pada umumnya," terang beliau.

 

Mengenai NU, kiai asal Kecamatan Batuan Sumenep ini menyebutkan bahwa organisasi yang didirikan oleh para ulama tersebut merupakan ummatan wasathan atau umat yang berada di tengah. "Dalam bersikap, NU selalu mengambil jalan tengah sehingga tidak mudah mengkafirkan orang lain. Adapun kelompok yang gemar mengkafirkan kelompok lain, jelas itu bukan ummatan washatan," ucapnya tegas.

 

 
 
Kiai Hafidzi juga menyebutkan bahwa dalam struktural NU, yang paling penting adalah pengurus rantingnya. "Percuma ada pengurus cabang dan pengurus wilayah bila warga desanya ternyata bukan NU," ungkapnya.

 

Namun demikian, Kiai Hafidzi mengharapkan agar kepengurusan ranting NU benar-benar aktif, tidak hanya sebatas nama dan struktur. "Minimal kalau mau mengundang Rais Syuriyah ya harus pakai surat, jangan hanya lewat telepon," ujar beliau sembari berkelakar.

 

Penulis: Ach Khalilurrahman

Editor: Romza

PWNU Jatim Harlah