Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Keislaman Tokoh Khutbah Opini Nusiana Rehat Jujugan Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Imsakiyah

KH Abdurrahim Mantan Ketua NU di Sumenep yang Telaten Bina Nahdliyin Desa

KH Abdurrahim Mantan Ketua NU di Sumenep yang Telaten Bina Nahdliyin Desa
Almarhum KH Abdurrahim. (Foto: NOJ/ Firdausi).
Almarhum KH Abdurrahim. (Foto: NOJ/ Firdausi).

Sumenep, NU Online Jatim

Berangkat dari adagium yang dipelopori oleh founding father atau bapak proklamator Indonesia (Soekarno), jangan pernah melupakan sejarah (Jas Merah). Bila direnungkan lebih dalam, kata bijak ini ada benarnya. Mengingat dalam kehidupan manusia tidak luput dari perjalanan sejarah.

 

Setiap yang dilalui penuh hikmah, sehingga pengalaman tersebut menjadi modal untuk berkelit dari bahaya hari ini dan hari esok. Pentingnya mempelajari kisah orang pendahulu untuk dijadikan ibroh dan teladan dari sisi positif bisa membangkitkan ghirah perjuangan para generasi muda, salah satunya Nahdlatul Ulama (NU).

 

KH Abdurrahim bin Mawardi adalah sosok ulama di Kecamatan Pragaan, Kabupaten Sumenep, yang saat itu populer di tengah-tengah masyarakat. Kiai asal Desa Prenduan, Kecamatan Pragaan, Kabupaten Sumenep tersebut alumni Pondok Pesantren Syafi’iyah Salafiyah Sukorejo, Situbondo yang saat itu diasuh oleh almarhum KH R As’ad Syamsul Arifin.

 

Ketekunannya hampir dijumpai setiap malam saat mengkaji kitab-kitab atturats sebagai wahana pembelajaran pribadi dan bekal pendidikan pada masyarakat yang saat itu sangat konservatif. Yang sangat dirasakan oleh puteranya KH Zarkasyi Abdurrahim, beliau sangat telaten saat mengajar ngaji.

 

Salah satu hasil perjuangannya, dapat dilihat dari peletakan batu pertama pembangunan masjid Mustaqbil sebagai simbol pengabdian pada tahun 1968. Beliau mendirikan Majlis Ta’lim Mustafi’ien yang bekerja sama dengan Kiai Hosnan dan dukungan dari Rais Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Pragaan, yaitu KH Ali Bakri.

 

Dalam pandangan keluarga, beliau sosok yang sabar, tekun, dan bersahaja. Kesabaran beliau tercermin dalam sikap beliau dalam membina kehidupan masyarakat terutama warga NU yang tersebar di berbagai pelosok pedesaan, yang saat itu sarana transportasi dan komunikasi sangat minim.

 

Mantan Ketua (MWCNU Pragaan di era 1990 an itu tidak menjadikan alasan bagi beliau untuk melemahkan pengabdiannya kepada NU. Kiai Abdur sapaannya, terbiasa berjalan kaki dan menaiki sepeda ontel setiap menghadiri kegiatan rapat pengurus harian MWCNU, Lembaga, Ranting NU, dan Badan Otonom (Banom) NU.

 

Penegasan ini disampaikan oleh KH Ahmad Junaidi Mu’arif saat berbagai pengalaman. Dalam memori ingatannya, sosok Kiai Abdur sangat istiqamah menghadiri acara Bahtsul Masail di masing-masing Ranting NU. “Walaupun sakit, beliau paksakan hadir bersama warga NU yang saat itu animo masyarakat sangat gila terhadap penetapan hukum,” ujarnya.

 

Salah satu santrinya, Affandi Hasani menyatakan bahwa beliau terbiasa tidak memakai sandal dalam menjalankan aktivitas. Namun ketika ada acaranya yang sifatnya diniyah dan ijtimaiyah, beliau terbiasa memakai bakiak atau terompah.

 

Menurutnya, kharisma beliau semakin tampak ketika beliau mampu memindahkan batu besar saat membangun pondasi madrasah, padahal banyak tukang bangunan yang berpengalaman. “Sejak itulah beliau memiliki tamu yang datang dari berbagai daerah,” ungkapnya.

 

Berbeda dengan pendapatnya KH Moh Farid, dirinya mengatakan bahwa sosok Kiai Abdur sangat aktif di kancah perpolitikan, kala itu NU masih menjadi partai. Namun di masa Orde Baru, beliau bergabung di PPP bersama jajaran ulama lainnya.

 

Kiai Abdur Bendung Paham Wahabi

Nama Kiai Abdur semakin harum sampai saat ini karena di tengah gelombang dan pertarungan ajaran ormas Islam (selain NU) dan Ahlusunnah wal Jamaah, ia menjadi pioner dan pelopor dalam merubah berbagai kultur masyarakat di Desa Prenduan. Tujuannya adalah ingin mengembalikan paham Aswaja an-Nahdliyah yang saat itu digerogoti atau diracuni oleh kelompok gerakan Wahabi.

 

Sekitar tahun 1976, ketertarikan masyarakat nahdliyin terhadap Aswaja, mulanya biasa-biasa saja. Karena masyarakat di Kecamatan Pragaan sudah terbiasa melakukan amaliah NU, seperti shalawatan, tahlilan, ziarah kubur, dan lainnya. Namun ketenangan warga mulai terusik ketika masuknya ajaran atau ritual baru. Pada saat itulah beliau bangkit dan memulai syiarnya dari rumah ke rumah, dari perkumpulan ke perkumpulan masyarakat, dan dari ranting ke ranting yang biasa digelar secara mingguan.

 

Beliau selaku Ketua MWCNU Pragaan saat itu memberikan semangat baru dan mengembalikan kemurnian ajaran Aswaja. Jika ada yang menentang, maka ia mengajak untuk berdiskusi dan berdebat untuk menyelesaikan perkara hukum tersebut dalam sebuah forum.

 

Menurut kacamatanya, Aswaja dalam perspektif imam Madzhab adalah Syafi’i, Maliki, Hambali, dan Hanafi. Akan tetapi, berdasarkan pengamatannya, warga NU lebih banyak mengadopsi paham Asy-Syafi’iyah, karena prinsip Aswaja terdiri dari At-Ta’aruf (saling mengenal), Atta-Fahum (saling memahami), Atta’adul (berpikir dan bersikap proporsional), Attasamuh (toleransi), Attakaful (tenggang rasa), dan Attadamun (kooperatif).

 

Masuknya Wahabi ke hiruk pikuk kehidupan masyarakat Prenduan, mampu melumpuhkan kegiatan perkumpulan-perkumpulan ke-NU-an, sehingga kontinuitas pertemuan mulai merenggang. Terbukti sejak kolaborasi KH Ali Bakri dan KH Abdurrahim di jajaran pengurus harian MWCNU, beliau mampu meredam konflik warga NU Prenduan dengan kelompok Wahabi.

 

Mereka bisa memaknai perjuangan dan saling memahami bagaimana cara terbaik menyelamatkan masyarakat. Duetnya mampu memberikan kearifan mengayomi warga, kreasi dan kerja-kerja intelektual kaum muda, saat itu Gerakan Pemuda (GP) Ansor sedang gencar melakukan dakwah di berbagai bidang, seperti lewat kesenian, kajian, pengajian, olahraga, dan lain-lainnya.

 

Sebagaimna disampaikan oleh Kiai Junaidi sapaannya, bahwa gerakan Kiai Abdur di Kecamatan Pragaan mampu menancapkan semangat Khittah 1926. Ideologi NU adalah ideologi kebangsaan yang berorientasi pada kerakyatan yang menjunjung tinggi toleransi (tasamuh) dan keadilan (al-‘adalah).

 

 

Dengan landasan itulah, para muassis NU di Pragaan menajdi pelindung, penerjemah, pengawal kepentingangan publik (mashalihul ‘am), sehingga NU disegani oleh beragam golongan, karena ulama NU mempertaruhkan kecemerlangan pemikiran dan ketangguhan moralitasnya. Sebagai generasi penerus, tentu memetik hikmah sebagai ibrah untuk memperbaiki sikap dan perjuangannya saat berkhidmat di NU hingga akhir masa.

 

Editor: Romza

Iklan promosi NU Online Jatim