Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Keislaman Tokoh Khutbah Opini Nusiana Rehat Jujugan Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Imsakiyah

Lebaran Ketupat, Teguhkan Soliditas Masyarakat Desa

Lebaran Ketupat, Teguhkan Soliditas Masyarakat Desa
Panganan Ketupat. (Foto: NUO).
Panganan Ketupat. (Foto: NUO).

Banyuwangi, NU Online Jatim

Ketika Bulan Syawal tiba, umumnya masyarakat Jawa mengenal dua kali pelaksanaan lebaran. Diantaranya Idul Fitri yang dilaksanakan tepat pada tanggal 1 Syawal dan lebaran ketupat yang diperingati satu pekan setelahnya. 

 

Disebut lebaran ketupat karena di waktu tersebut masyarakat serempak membuat ketupat dan berbondong-bondong mengantarkannya ke masjid atau surau terdekat. Selain itu, tidak lupa pula ketupat tersebut dikonsumsi bersama keluarga.

 

Ketupat merupakan panganan dari beras yang dimasak dalam jalinan janur atau daun kelapa muda. Bentuknya beragam, ada yang segi empat, segi tiga, dan sebagainya.

 

Ketua Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kecamatan Songgon Kabupaten Banyuwangi, H Imam Baidlowi menyebutkan, lebaran ketupat ini merupakan sebuah kolaborasi antara tradisi dan keagamaan.

 

“Tradisi ini sudah turun temurun dilakukan, dan senantiasa dikemas dengan praktik agama di dalamnya,” ujarnya kepada NU Online Jatim, Rabu (19/05/2021).

 

Tradisi lebaran ketupat di Kecamatan Songgon dilakukan oleh masyarakat desa sebagai simbol  kebersamaan dengan membawa ketupat yang masak ke masjid atau surau terdekat bersama. Lumrahnya, disertai dengan pembacaan do’a Khatmil Qur’an pada malam kedelapan bulan Syawal.

 

“Selama Ramadlan, masyarakat melaksanakan tadarus Al-Qur’an, lalu doa khotmilnya dibaca ketika lebaran ketupat,” papar Ketua MWCNU Songgon yang sudah menjabat selama 17 tahun tersebut.

 

Menurutnya, tradisi yang memiliki hubungan dengan keagamaan dapat menjadi simbol kearifan dan kebersamaan, utamanya bagi masyarakat desa. Menurutnya, lebaran ketupat tersebut merupakan peninggalan dari Sunan Kalijaga.

 

“Tradisi seperti lebaran ketupat ini luar biasa, utamanya di Banyuwangi sendiri. Sejenis dengan tradisi 'Kembang Endhog' saat Maulid Nabi, yang sampai saat ini lestari bahkan banyak daerah lain yang mengadopsinya,” tambahnya.

 

H Imam Baidlowi pun mengutarakan, bahwa pesan moral dari lebaran ketupat tersebut agar diyakini sebagai tuntunan dan peninggalan yang baik dari para leluhur tentang nilai kebersamaan.

 

“Tradisi ini penting untuk dilestarikan. Sebab telah mengakar kuat dan menjadi kearifan masyarakat desa, utamanya di Jawa,” pungkasnya.

 

Editor: A Habiburrahman


Editor:
F1 Bank Jatim