Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Keislaman Tokoh Khutbah Opini Nusiana Rehat Jujugan Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Imsakiyah

Tugas Berat Santri Usai Kepergian Sejumlah Kiai

Tugas Berat Santri Usai Kepergian Sejumlah Kiai
Wafatnya sejumlah ulama dan kiai menjadi tanggung jawab santri. (Foto: NOJ/Zpr)
Wafatnya sejumlah ulama dan kiai menjadi tanggung jawab santri. (Foto: NOJ/Zpr)

Awal tahun 2021 dibuka dengan berita duka yang tidak kunjung berhenti, sejak tanggal 1 hingga 10 Januari 2021 hampir setiap hari ada kiai yang berpulang. Di antara para kiai dan ulama yang wafat adalah berpulangnya Habib Jakfar Al-Kaff (Kudus), KHR Muhaimin Asnawi (Magelang). Berikutnya KH Zainal Abidin (Kota Metro), KH Najib Abdul Qadir (Yogyakarta), KH Dang Fathurrahman (Garut), Nyai Hajah Shalihah (Tebuireng), KH Muallim (Brebes), KH Ali Muhson (Boyolali), KH Arifin Utsman (Pekalongan). Dan masih hangat di telinga kita berita atas wafatnya KH Zaimuddin Badrus (Kediri).

 

Berita duka tersebut menambah deretan nama-nama kiai dan ulama yang telah wafat pada tahun 2020. Di akhir Desember 2020, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) merilis data sebanyak 234 kiai dan tokoh NU yang wafat selama pandemi.

 

Tentu kepergian para kiai tersebut membuat kita sebagai santri sangat terpukul dan kehilangan. Bukan saja karena beliau adalah guru dan panutan kita, tetapi juga penerang bagi umat yang mendidik dan menuntun pada kebenaran. Kepulangan seorang kiai berarti sebuah bencana bagi umat itu sendiri. Tetapi rasa kesedihan dan kehilangan saja tidak cukup.

 

Santri bukan saja sebagai orang yang nyadong ilmu dari para kiai, tetapi adalah generasi penerus sekaligus anak ideologis. Oleh karena ini beban tanggung jawab untuk meneruskan perjuangan kiai ada di pundak santri. Bagi saya kepergian para kiai di masa pandemi ini memberikan banyak tanggung jawab kepada santri. Untuk itu kita boleh saja berduka, tetapi akan lebih baik para santri segera menyadari beban tanggung jawab tersebut.

 

Meneruskan Ajaran dan Perjuangan

Salah satu tugas berat santri ketika ditinggalkan kiai adalah meneruskan ajaran sekaligus perjuangannya. Kiai bukanlah sekadar orang dengan kapasitas keilmuan yang luas, tetapi lebih dari itu kiai adalah sosok yang memegang peranan penting di tengah masyarakat. Peran itu adalah sebagai social control (kontrol sosial) sekaligus social engineering (rekayasa sosial).

 

Sebagai kontrol sosial, seorang kiai berperan untuk menjaga kedamaian dan keharmonisan di tengah masyarakat. Keharmonisan itu dicapai dengan dakwah-dakwah yang santun dan lembut, dan selalu menebar pesan perdamaian, menghindari perselisihan dan permusuhan. Oleh karena itu santri sebaiknya dapat meneruskan peran ini.

 

Tentu usaha untuk meneruskan peran tersebut tidaklah mudah, tetapi paling tidak santri bisa menjadi agen-agen perdamaian dengan berperilaku santun, menghargai perbedaan dan menyebarkan pesan-pesan perdamaian dan persatuan. Dengan demikian seorang santri akan menjadi perekat yang yang menyatukan berbagai elemen dalam masyarakat, sehingga keharmonisan dapat tercapai.

 

Peran lain yang tidak kalah penting dari seorang kiai adalah sebagai social engineering. Artinya seorang kiai bukan hanya sebagai penjaga ketertiban sosial, tetapi juga dapat menggerakkan masyarakat dari kondisi yang tidak baik kepada yang baik dan lebih baik.

 

Dengan ketokohan, kepemimpinan dan teladan yang diberikan kepada masyarakat, seorang kiai bisa menjadi panutan yang diikuti setiap perkataan dan perilakunya oleh masyarakat. Tanpa paksaan, masyarakat bisa dengan suka rela mengikuti keinginan para kiai. Hal inilah yang mendorong untuk bertransformasi menjadi masyarakat yang lebih baik. Masalah-masalah besar bangsa ini seperti radikalisme, perpecahan golongan tertentu akibat politik, dapat diselesaikan oleh para kiai dengan pendekatan yang lebih humanis.

 

Dalam hal ini sangat penting bagi santri untuk tetap melanjutkan peran tersebut. Santri dengan beragam kapasitas yang dimiliki, harus berusaha menjadi penggerak dalam lingkungan dan kehidupan masing-masing. Tentu saja peran ini dilakukan sesuai dengan kemampuan masing-masing. Di zaman yang sangat akrab dengan teknologi, peran ini bisa dilakukan dengan berbagai media seperti media sosial. Dengan catatan media sosial tersebut digunakan untuk hal-hal yang positif, seperti membuat tulisan atau konten lainnya yang dapat menggerakkan orang untuk berbuat baik. 

 

Kita pasti tahu banyak artis atau influencer yang memanfaatkan media sosial untuk mendapatkan popularitas dan materi. Santri juga sebaiknya memasuki ruang-ruang tersebut, bukan untuk mencari popularitas dan materi, tetapi untuk memberikan hal-hal positif yang mendidik sehingga menjadi inspirasi bagi masyarakat luas. Dengan demikian masyarakat tergerak mengikuti setiap uswah yang baik tersebut.

 

Jihad Ilmiah

Salah satu karakter yang melekat pada kiai adalah pembelajar sepanjang hayat. Sudah jamak kita dengar cerita betapa para kiai sangat tekun dalam belajar dan mengajar. Oleh karena itu kedalaman ilmu seorang kiai sudah tidak diragukan. Wafatnya seorang kiai juga berarti hilangnya ilmu yang dikuasai. Sungguh sangat disayangkan jika kehilangan seorang kiai dengan segudang ilmu.

 

Untuk itu tugas berikutnya, santri adalah mewarisi spirit belajar tanpa kenal waktu. Jangan sampai semangat mencari ilmu pudar dan hilang. Santri harus berusaha sekuat tenaga melanggengkan rasa haus akan ilmu tersebut. Di tengah banyaknya sampah informasi akibat teknologi informasi yang sangat terbuka, ilmu adalah sesuatu yang sangat berharga. Banyak orang tertipu dengan berita bohong, hasutan, dan tulisan yang tidak dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya karena tidak memiliki ilmu.

 

Oleh karena itu seorang santri sebaiknya terus mengasah kemampuan dan memperdalam keilmuan agar mampu terhindar dari jerat pemahaman yang salah bahkan sesat. Semangat kiai itulah yang dapat menjadi bahan bakar santri dalam mencari ilmu.

 

Tidak hanya semangat mencari, seorang santri juga dituntut untuk mampu mengajarkan ilmu, karena itulah tugas kiai yang juga diwariskan kepada santri. Mengajar yang saya maksudkan adalah dalam arti luas, tidak sekadar menjadi guru di sebuah lembaga. Kemajuan teknologi bisa dimanfaatkan untuk menyebarluaskan ilmu yang didapatkan dari seorang kiai.

 

Menjadi penulis, konten kreator, atau youtuber juga merupakan sarana menyebarkan ilmu. Kita bisa dengan mudah mencari artikel tentang ilmu-ilmu keagamaan di media elektronik seperti NU online, atau ceramah agama di youtube, demikian pula kutipan nasihat para ulama di instagram. Itu semua adalah bentuk syiar dan transfer ilmu pengetahuan dengan menggunakan teknologi.

 

Boleh saja kita bersedih atas kepergian para kiai, tetapi yang lebih penting dari sekadar bersedih adalah mewarisi segala bentuk uswah, ajaran, dan perjuangan. Santri adalah anak ideologi para kiai, bukan hanya dalam keilmuan tetapi juga dalam karakter dan perjuangan.

 

 

Ustadz Mustaufikin adalah pengajar di Madrasah Aliyah Unggulan KH Abdul Wahab Hasbulloh (MAUWH), Tambakberas, Jombang. 

Iklan promosi NU Online Jatim