• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Sabtu, 20 April 2024

Opini

Mencermati Jenis Pola Perilaku Bermuamalah Masyarakat

Mencermati Jenis Pola Perilaku Bermuamalah Masyarakat
Manusia butuh orang lain untuk bisa menjalani hidup normal. (Foto: NOJ/Int)
Manusia butuh orang lain untuk bisa menjalani hidup normal. (Foto: NOJ/Int)

Oleh: Sugiarso

 

Manusia sebagai makhluk sosial tentu tidak bisa hidup sendirian, tetapi membutuhkan keberadaan orang lain untuk bisa menjalani hidup secara normal. Manusia makhluk lemah yang memiliki kebutuhan hidup beragam. Untuk memenuhi kebutuhannya dan hidup layak sebagaimana mestinya, manusia harus bergaul dengan manusia lain. Tidak ada cara agar manusia bisa hidup layaknya manusia kecuali dengan hidup berkelompok membentuk suatu masyarakat.


Pergaulan manusia satu dengan lainnya dalam memenuhi hajatnya, yakni hajat dunia dan hajat akhirat memiliki pola perilaku yang unik. Pola ini menggambarkan kualitas mental seseorang dalam bermasyarakat dan terbentuk oleh wawasan  dan  pengetahuan serta pengalaman hidupnya.


Pola perilaku bermuamalah ini berkaitan dengan  aktivitas pada sebuah organisasi nirlaba atau suatu masyarakat. Kegiatan yang dimaksudkan di sini adalah kegiatan keagamaan dan sosial kemasyarakatan untuk kepentingan anggota organisasi dan atau publik serta masyarakat umum. Sedangkan kegiatan yang bersifat komersial dari suatu perusahaan atau organisasi komersial merupakan kegiatan yang ada di luar definisi dan cakupan pembahasan ini.

 

3 Pola Perilaku Bermuamalah

Manusia “me” dan manusia “di” merupakan satu pengetahuan yang didapat dari guru penulis, yakni KH Muhammad Nizam as-Shofa, sang penulis dan pelantun syiir berjudul Syiir Tanpa Waton yang lebih dikenal dengan sebutan Gus Dur terkait perilaku seseorang dalam bermuamalah. Hal ini disampaikan oleh pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Ahlus Shofa wal Wafa ini tatkala rutinan  pengajian Reboan Agung. Menurutnya, murid yang baik itu ialah orang yang punya mental “me” bukan “di”. Apakah maksud mental “me” dan mental “di” itu?

 

Pertama, manusia tipe “me”. Manusia yang secara filosofis inginnya menanam sebanyak-banyaknya tanaman kebaikan, namun tidak pernah mau memikirkan dan mengharapkan panennya. Panen atau tidak, bukan fokusnya karena yang didamba adalah menanam karena tindakan itu membahagiakannya, bahagia bisa berbuat baik, bahagia bisa membalas dan menjalani perintah-Nya

 

Dia ingin selalu “me” orang lain tanpa berharap orang lain itu membalas dengan “di” kepadanya. Dia suka me-nolong tapi tidak berharap di-tolong. Dia suka mem-bantu tapi tidak berharap di-bantu. Dia suka me-ngunjungi tapi tidak berharap di-kunjungi. Dia suka men-datangi tapi tidak berharap di-datangai. Dia suka me-minjami tapi tidak berharap di-pinjami. Dia suka me-layani tapi tidak berharap di-layani. Dia suka mem-beri tapi tidak berharap di-beri. Dia manusia “me”, tidak berharap menjadi manusia “di”. Dia hanya  mau “me” demi agar “di” oleh Dia.


Ia adalah manusia di luar biasa, manusia di atas umumnya manusia. Ia telah menjadi inang dari banyak pihak. Keberadaannya memberi daya juang dan pergerakan untuk maju dan berkembang. Ia menjadi sumber inspirasi sebagai sang inspirator. Ia mampu menggerakkan yang diam, menumbuhkan yang mati, menyuburkan yang gersang, menghijaukan yang kering, menjalankan yang macet, membuka yang tertutup, menjahit yang robek serta atribut-atribut aktif lainnya.


Orang “me” adalah subyek pelaku, bukan obyek penderita. Orang “me” adalah representasi kalimat aktif dengan fokus pada kata kerja aktif, dengan awalan me + kata kerja (bermakna positif). Orang “me” adalah orang yang punya aksi, punya tindakan bukan yang bereaksi atau menanggapi tanggapan. Orang “me” bisa mendikte orang lain untuk berbuat yang lebih kuat dan semangat.


Orang “me” diilustrasikan sebagai seorang kakek renta yang sungguh rajin menanam pohon kelapa tanpa henti di ladangnya, di fasilitas umum, dan di tempat lain yang diijinkan pemiliknya . Perbuatan kakek renta ini menimbulkan pertanyaan orang yang melihatnya mengenai alasan menanam kelapa di saat usia senjanya. Secara logika umum pohon kelapa itu panen usia 10 tahunan ke atas, sementara kakek renta ini bisa jadi sudah meninggal namun pohon kelapa yang ditanamnya itu belum berbuah.


Kakek renta menerangkan bahwa dia menanam ini untuk anak cucunya kelak. Dia sekarang bisa memanen kelapa karena dulu ditanam oleh bapak atau lelulurnya yang sekarang sudah meninggal. Dia ingin meneruskan tradisi leluhurnya dan meninggalkan kemanfaatan untuk anak cucunya sebagaimana dirasakannya saat ini.


Setiap yang menanam pasti panen. Tidak bisa dikatakan tidak panen jika misalnya petani menanam padi lalu hancur diterjang banjir. Dia tetap panen, sejelek-jeleknya (sebenarnya bukan jelek) panenannya adalah panen pupuk kompos. Panen lainnya berupa rangsangan berpikir solutif atas resiko banjir dan naiknya kesadaran bahwa memang manusia tidak bisa kuasa apa-apa dan tidak punya apa-apa, kesadaran makrifatullah-nya semakin baik.


Tatkala petani padi tadi protes atau marah-marah atas kerusakan padinya, jelas tidak ada gunanya. Protes dan marah kepada siapa? Kepada Allah? Tidak berguna. Tidak mengubah keadaan, dan justru menambah derita. Inilah bentuk panen dalam dimensi  lain, tatkala padi rusak  terkena banjir.


Kedua, manusia tipe “di”.  Manusia tipe ini adalah kebalikan dari manusia tipe pertama. Manusia tipe “di” secara filosofis inginnya memanen saja tanpa mau susah payah menanam atau tidak mau tahu asalnya tanaman itu dari mana. Fokusnya adalah ingin terus memanen. Menanam dinilainya sebagai pekerjaan yang tidak penting, pekerjaan yang sebisa mungkin dihindari karena terlalu lama, bertele-tele, mengganggu aktivitasnya, dan alasan lainnya. Dia merasa tidak nyaman jika ditanya tenang asal-usul tanaman itu. Dia senang sekali menemukan tanaman liar atau tanaman yang tidak jelas statusnya yang siap dipanen

 

Dia ingin selalu “di” oleh orang lain tanpa mau berpikir atau berbuat “me” untuk orang lain. Dia merasa sebagai orang yang penting, egois, orang yang orang lain merasa butuh dirinya.

 

Dia suka di-tolong tapi enggan untuk me-tolong. Dia suka di-bantu tapi tidak berkeinginan untuk mem-bantu. Dia suka di-kunjungi tapi tidak terbesik di pikirannya untuk me-ngunjungi. Dia suka di-datangi tapi banyak alasan untuk  men-datangi. Dia suka di-minjami tapi sangat sulit untuk me-minjami. Dia suka di-layani tapi tidak tidak mau untuk me-layani. Dia suka di-beri tapi tidak ada gejala-gejala untuk suatu saat mem-beri. Dia manusia “di”, tidak berharap menjadi manusia “me”. Dia hanya ingin “di” demi untuk dirinya sendiri. Dia tidak mau “me” untuk selain dirinya.

 

Orang “di” adalah orang yang menjadi obyek dan sasaran. Orang “di” adalah adalah representasi kalimat pasif dengan fokus pada kata kerja dengan imbuhan pasif (awalan di + kata kerja). Orang “di” adalah orang yang bereaksi jika ada aksi, orang yang bersifat menunggu. Orang “di” orang yang biasanya didikte orang lain agar mau berbuat atau bergerak. Orang ‘’di” adalah orang yang diam, defensif, dan menjaga status quo.


Ibarat sebuah gong, orang “di” akan berbunyi jika dipukul oleh pemukul gong. Saat tidak dipukul lagi bunyi gong lama-lama akan hilang. Gong berbunyi lagi jika dipukul lagi. Dan beberapa saat suaranya hilang. Demikianlah terus berulang, tanpa aksi tidak ada reaksi karena tidak ada kesadaran dari dalam diri sendiri.


Dia adalah manusia tidak umumnya manusia. Dia memilih menjadi parasit dari inang yang dihinggapi dengan tidak mau pergi dan lepas dari inangnya. Dia tidak berani hidup mandiri mencari makan sendiri. Bisa juga dia tidak mau capek-capek mencari makanan sendiri, namun suka yang nyaman-nyaman.


Orang ‘di’ ibarat polisi tidur yang membuat pengguna jalan tidak bisa lari kencang. Sebagai polisi tidur, orang ‘di’ mengingatkan pengguna jalan untuk banyak waspada di jalan yang ada polisi tidurnya. Jika tidak waspada, pengguna jalan bisa terjungkal dengan polisi tidur ini. Dia membuat pengguna jalan lebih pelan, tidak bisa gas pol, bahkan dalam kepadatan lalu lintas, bisa membuat macet jalan.


Selain kedua tipe manusia di atas, penulis mengamati dan menemukan fakta bahwa umumnya manusia “me” atau “di” itu jarang ditemukan. Kebanyakan dari para anggota organisasi nirlaba atau masyarakat ialah manusia tipe tengah-tengah di antara keduanya ini. Manusia tipe ketiga ini paling banyak ditemukan di kehidupan sosial kemasyarakatan.


Ketiga, manusia tipe “me-di” kadang juga menjadi manusia “di-me”. Orang ini memiliki mental yang berubah-ubah yang merupakan gambaran umumnya orang awam. Orang pada posisi ini suatu saat bisa mem-beri namun tetap berharap gantian diberi. Kadang meng-ajak namun juga berharao diajak, menolong namun juga berharap untuk ditolong. Tatkala harapan timbal balik ini tidak terjadi, posisinya yang semula “me-di” bisa berubah menjadi orang ‘di-me ‘ atau bahkan menurun drastis ke tingkatan orang “di”.


Orang ini digambarkan orang yang senang menanam dan senang berharap hasil panennya baik. Dia sadar tidak berharap mendapat panenan ketika tidak menanam. Kesungguhan dan konsistensinya dalam menanam itu dipengaruhi oleh hasil tanamannya. Jika tanaman yang dipelihara itu hasilnya bagus, dia akan senang dan semangat. Namun jika tanamannya itu gagal panen, dia akan sedih dan cenderung mengganti jenis tanaman yang gagal panen ini. Orang jenis ini tidak mendapatkan keahlian dan mental yang kuat karena tidak konsisten.


Tatkala pada tingkatan “me-di”, orang ini bisa mendikte dan melakukan tindakan-tindakan aktif lainnya walaupun tidak konsisten dan argumentatif. Berhubung orang pada jenis ketiga ini masih di tingkatan mengharapkan balasan, maka perubahan posisi dari “me-di” ke “di-me” itu bergabung dari respons lawannya atau lingkungannya. Orang ini memiliki mental yang labil dan mengambang. Orang  inilah orang yang gampang berubah haluan. Tatkala harapan terpenuhi dia bisa aktif dan mendukung, namun jika harapan tidak terpenuhi bisa berbalik arah pasif dan menghalangi.

 

Sugiarso adalah Wakil Ketua PCNU Mimika, Papua, Ketua Jamaah Istighatsah An-Nahdliyyah Mimika, serta Koordinator Papuan Bridge PT Freeport Indonesia.


Editor:

Opini Terbaru