• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Sabtu, 10 Desember 2022

Rehat

Lewat Sepak Bola, Islam Berkembang di Penjuru Dunia

Lewat Sepak Bola, Islam Berkembang di Penjuru Dunia
Perkembangan Islam di dunia karena jasa para pemain sepak bola muslim. (Foto: NOJ/JHe)
Perkembangan Islam di dunia karena jasa para pemain sepak bola muslim. (Foto: NOJ/JHe)

Saat ini perhatian khalayak sedang fokus ke Qatar sebagai tuan rumah piala dunia sepak bola 2022. Sejumlah nama mentereng yang merupakan pesepak bola dunia dari beberapa klub terkenal juga jadi pembicaraan publik. Dan dari sepak bola, Islam berkembang hingga pelosok dunia.


Seperti diketahui bahwa berdakwah tidak hanya lewat mimbar pengajian, tetapi juga bisa lewat sepak bola. Seperti yang dilakukan beberapa pemain muslim di Eropa dan benua lain. Berkat jasa mereka, Islam diterima dan berkembang di kawasan tersebut.


Penegasan ini sebagaimana disampaikan ahli tafsir, KH Ahmad Bahauddin Nursalim. Kiai yang lebih akrab disapa Gus Baha ini mengatakan, jasa pemain sepak bola muslim telah membawa nama baik Islam sehingga tidak dibenci orang-orang di negaranya. 


Pengasuh Pesantren Tahfidz Qur'an LP3IA Rembang ini mengapresiasi jasa pemain sepak bola. Pada salah satu ceramahnya di acara tabligh akbar bersama dosen dan mahasiswa Telkom University, Gus Baha menjelaskan tentang perkembangan Islam di dunia karena jasa para pemain sepak bola muslim.


"Orang Inggris itu kalau mengenal Islam lewat Mohammed Salah, pemain sepak bola (Liverpool). Mereka tidak ingin mengamati kiai, justru yang mereka ingin amati adalah pemain bola,” katanya.


Demikian pula orang Prancis tidak benci Islam karena Zainuddin Yazid atau yang lebih dikenal dengan Zinedine Zidane. 


“Dia imigran dari Aljazair yang merupakan negara di benua Afrika,” terangnya.


Setelah Zidane membawa Perancis juara pada piala dunia 1998, warga kemudian tidak benci terhadap Islam. Zidane membawa kebanggaan Prancis sebagai juara dunia. Apalagi waktu itu ada juga beberapa pemain muslim di Timnas Prancis.


“Orang mengira, warga Prancis tidak membenci Islam itu menunggu toleransi beragama lewat buku-buku, ternyata tidak, justru karena pemain sepak bola,” tegas Gus Baha. Sampai setelah Prancis menjadi juara dunia, salah satu jurnal di sana menuliskan: "Siapa bisa membenci orang Aljazair? Mereka harga kita, mereka martabat kita."


Demikian pula pemain di Inggris kalau mau shalat atau puasa demikian susah. Terus mereka mau meminta hak ketika musim puasa. Tetapi sekarang menjadi mudah di luar dugaan karena Manchester City dibeli oleh Sulaiman Al-Fahim selaku pengusaha asal Uni Emirat Arab.


“Ya sudah mau apa kalau yang punya (klub) adalah seorang muslim,” sergah Gus Baha.


Di ujung keterangan, Gus Baha menjelaskan bahwa dalam sejarah yang populer, Islam masuk di Indonesia bukan lewat ustaz, tapi melalui pedagang. “Ya meskipun banyak versi para ahli sejarah tentang teori masusknya Islam di Indonesia,” tutupnya.


Selamat memperhatikan jadwal sepak bola dunia dan berterima kasih kepada para pemain muslim yang telah menjadi duta agama di belahan dunia.


Rehat Terbaru