• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Sabtu, 10 Desember 2022

Risalah Redaksi

Pelajaran Penting dari Invasi Rusia ke Ukraina

Pelajaran Penting dari Invasi Rusia ke Ukraina
Invasi Rusia ke Ukraina yang menghancurkan sejumlah fasilitas. (Foto: NOJ/SP)
Invasi Rusia ke Ukraina yang menghancurkan sejumlah fasilitas. (Foto: NOJ/SP)

Perhatian dunia saat ini dicurahkan kepada invasi yang dilakukan Rusia ke Ukraina. Awalnya, mungkin tidak ada yang menyangka hal ini akan terjadi karena perang akan menyisakan banyak persoalan. Akan tetapi seiring berjalannya waktu, nyatanya penyerbuan dilakukan Rusia ke Ukraina dengan kekuatan yang mungkin tidak berimbang.


Beragam analisa disampaikan sejumlah pihak terkait tragedi penyerangan tersebut. Apa yang melatarbelakangi? Dari mulai masalah ekonomi, politik, pertahanan dan sejumlah asumsi lainnya. Kita tentu tidak terlalu mengetahui mana dari sejumlah analisa tersebut yang mendekati kebenaran. Karena memang tidak ada motivasi tunggal dari sebuah perang. Banyak sebab, dan terkadang pemicu utama tersebut tidak mengemuka.


Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf merespons konflik yang terjadi antara Rusia dan Ukraina. Gus Yahya khawatir, invasi yang dilancarkan Rusia dapat mengancam keutuhan tata negara dunia saat ini, termasuk berdampak pada dunia Islam.


Dalam pandangannya, kalau tidak direspons dengan tepat, hal tersebut akan berbahaya sekali bagi keutuhan tata negara dunia sekarang. Menurutnya, respons dari masyarakat dunia sangat diperlukan lantaran penyerangan oleh Rusia ke Ukraina berkaitan dengan ketahanan pondasi dari tata dunia yang sudah dibangun oleh masyarakat internasional sejak sesudah Perang Dunia II. Invasi yang dilancarkan Rusia itu juga bisa berdampak pada dunia Islam dalam hal-hal yang berkaitan dengan kemapanan perbatasan.


Gus Yahya menyebut, invasi Rusia ke Ukraina sebagai persoalan pelanggaran perbatasan negara, serupa dengan konstruksi lama yang diterapkan oleh berbagai negara sebelum Perang Dunia II. Masalahnya, apakah tatanan dunia pasca perang dunia kedua bisa terus dipertahankan, tentu hal ini antara lain tergantung pada bagaimana respons masyarakat internasional terhadap apa yang sekarang terjadi di kedua negara tersebut.


Lebih lanjut, Gus Yahya berpandangan bahwa konflik yang terjadi dapat mengancam keutuhan tata negara dunia saat ini. Karena kalau tidak direspons dengan tepat, akan sangat berbahaya bagi keutuhan tata negara dunia.  Dan ini merupakan tantangan besar bagi dunia internasional. 


Presiden Republik Indonesia (RI) Joko Widodo atau Jokowi menyerukan agar perang segera berhenti. Sebelumnya, ia juga telah menyinggung ketegangan yang terjadi di Ukraina untuk segera dihentikan. Ia mendorong semua pihak untuk berkontribusi pada perdamaian karena perang tidak boleh terjadi.  Dirinya memiliki pandangan yang sama dengan Sekjen PBB Antonio Guterres bahwa penanganan krisis Ukraina harus dilakukan secara cermat agar bencana besar bagi umat manusia bisa dihindarkan. Tetapi, upaya perdamaian ini harus cepat dan tidak bisa ditunda-tunda.   


Mewaspadai Pemicu Perang
Perang antarnegara sejatinya tidak harus ada karena sudah ada Perserikatan Bangsa-Bangsa atau PBB yang tentu saja memperhatikan pergerakan lintas negara. Apalagi hampir seluruh negara di dunia telah menyepakati bahwa perang tidak menjanjikan apa-apa selain porak porandanya tatanan negara yang berkonflik. Banyak sarana dan layanan publik hancur imbas dari serangan yang dilakukan menggunakan senjata pemusnah.


Tanpa perang saja, dunia tengah terseok-seok imbas dari penyebaran virus Corona yang hingga kini belum dapat ditangani dengan baik. Bagaimana sejumlah negara berupaya dengan keras agar dapat menggerakkan sektor ekonomi secara baik. Layanan pendidikan dan lainnya juga demikian, harus adaptasi dengan kenormalan baru yang juga belum ditemukan formula terbaiknya.


Perang yang terjadi memang bisa karena invasi negara lain. Namun yang tidak kalah penting untuk disadari adalah bahwa banyak cara yang menyebabkan kondisi sebuah negara akhirnya bergolak. Seperti yang terjadi di kawasan Timur Tengah, bahwa sebenarnya tidak ada invasi dari negara lain. Yang terjadi justru gejolak internal yang akhirnya bisa dimainkan pihak lain. Dan hal tersebut hendaknya menjadi kesadaran bersama seluruh warga dunia, termasuk rakyat Indonesia. Bahwa kemungkinan tidak ada negara yang akan melakukan pengambilalihan kawasan yang ujungnya menimbulkan perang. Yang justru harus diwaspadai yakni bagaimana suasana damai melingkupi negeri ini dan jauh dari potensi yang memecah belah, apalagi perang saudara.


Dengan perkembangan media sosial, hal tersebut tentu saja bisa saja terjadi. Bagaimana saat ini rakyat masih terbelah antara mereka yang mendukung dan kontra dengan pemerintah. Mereka yang tidak sejalan karena imbas dari pemilihan presiden beberapa tahun silam masih kerap bermanuver.


Pada saat yang sama, penguasa kerap juga membuat kebijakan yang tidak berpihak kepada rakyat. Sehingga dapat dimanfaatkan kalangan lain untuk mengolok-olok dengan ujaran tidak pantas, tindakan tak terukur, serta lainnya. Tanpa disadari bahwa apa yang dilakukan bukan menyelesaikan masalah, namun menimbulkan persoalan baru yang mungkin semakin membuat runyam keadaan.


Betapa banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan di negeri ini. Dengan kondisi aman dan kondusif saja, masih butuh proses lama untuk menyelesaikannya satu demi satu. Kemiskinan, layanan kesehatan, pendidikan, dan ketimpangan lain yang melekat dari perjalanan pembangunan ini demikian mudah disaksikan. Belum lagi kebijakan dengan aneka agenda terselubung yang tentu saja menguntungkan kalangan tertentu dan meninggalkan rakyat.


Sudah saatnya menyudahi polemik seperti yang tengah ramai dibicarakan. Dan hal tersebut tentu saja akan menguras perhatian dan konsentrasi pembangunan, sehingga kian melenceng dari yang ideal akan diraih. Tiba waktunya semua berpikir lebih maju dan menyisihkan perhatian dan kekuatan yang dimiliki untuk memperbaiki negeri ini. Tentu saja sesuai dengan kondisi dan kemampuan yang dimiliki. Buang jauh-jauh ego diri dan kelompok agar manfaat pembangunan dapat dirasakan rakyat secara keseluruhan. 


Perang dan konflik yang berkepanjangan tentu tidak menjanjikan apa-apa selain memperkeruh keadaan. Demikian pula semakin menjauhkan dari cita-cita para pendiri bangsa yang berharap rakyat di negeri ini semakin makmur. Karena peluang ke arah sana sangat mendukung dan memungkinkan. Sumber daya alam yang melimpah, demikian pula besarnya jumlah penduduk adalah modal yang tidak ternilai harganya.


Masalahnya sekarang, apakah potensi yang tersedia tersebut dapat diresonansi untuk kemakmuran bersama. Atau malah dimanfaatkan kalangan lain yang tidak ingin bangsa ini terus maju dengan menciptakan beragam konflik yang tidak berujung. 


Belajar dari perang sebelumnya dan juga invasi Rusia ke Ukraina, maka sudah saatnya semua sadar. Bahwa perang tidak menjanjikan apa-apa selain kesengsaraan dan derita bagi rakyat. Karenanya, sudahi beragam diskusi dan pembicaraan yang kurang produktif untuk memastikan bangsa ini maju dan mampu bersaing dengan negara lain di dunia. Jangan sampai kesadaran ke arah sana terlambat yang diawali perang di antara penduduk di negeri ini. 


Risalah Redaksi Terbaru