• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Sabtu, 1 Oktober 2022

Tapal Kuda

Lesbumi NU Lumajang: Megengan Tradisi Peniggalan Wali Songo

Lesbumi NU Lumajang: Megengan Tradisi Peniggalan Wali Songo
Dermawan, Ketua Lesbumi NU Lumajang. (Foto: NOJ/Sufyan Arif)
Dermawan, Ketua Lesbumi NU Lumajang. (Foto: NOJ/Sufyan Arif)

Lumajang, NU Online Jatim

Dermawan Setia Budi, Ketua Pengurus Cabang (PC) Lembaga Seniman Budayawan Muslimin Nahdlatul Ulama (Lesbumi NU) Kabupaten Lumajang, mengatakan, tradisi megengan merupakan tradisi peninggalan Wali Songo sebagai pengingat umat Islam akan masuknya bulan Ramadhan.


Hal itu dijelaskan Budi saat dirinya menjadi narasumber di program Ngaji Selosoan di studio Media Center An-Nahdloh (MCN) Gedung PCNU 1 Jalan Alun-Alun Timur Lumajang, Senin (28/03/2022) malam, dengan tema tradisi masyarakat dalam menyambut bulan Ramadhan.


Budi menjelaskan, megengan berasal dari bahasa jawa megeng yang berarti menahan. Hal itu sesuai dengan arti puasa itu sendiri yang juga berarti menahan diri dari melakukan perkara yang membatalkan puasa.


"Itu termasuk salah satu metode Wali Songo dalam dakwahnya untuk menanamkan kepada masyarakat nilai-nilai Islam yang diakulturasikan dengan tradisi dan bahasa masyarakat setempat, sehingga tak terasa masyarakat dapat dikenalkan dengan puasa," ungkap Budi.


Dalam perkembangannya, menurut Budi tradisi megengan ini bukanlah nama ritual tertentu. Namun dalam tradisi yang berkembang, megengan dilakukan dengan berbagai hal oleh masyarakat Islam di Indonesia yang terdiri dari 1340 suku dengan beragam budaya.


"Biasanya ada mudik, kemudian ziarah terus silaturahmi kepada sanak keluarga, puncaknya tasyakuran dengan kenduri atau kenduren bersama di mushala dan masjid. Bahkan di tempat lain ada juga dengan kirab kue apem, kalau di Kudus ada namanya Dandangan dan dilanjut menabuh beduk," imbuhnya.


Hal ini tentunya perlu dilestarikan dan tidak boleh hilang ditelan perkembangan zaman. Budi menegaskan istilah megengan jangan sampai hilang, hak ini harus terus digaungkan di tengah-tengah modernisasi dan silih bergantinya generasi.


"Ketika teknologi itu berkembang, maka akan ada saja tradisi yang mulai dilupakan seperti model Silaturahmi, saling memaafkan yang kadang dilakukan dengan stiker WA. Maka tradisi-tradisi seperti megengan ini tentunya tidak bisa digantikan dengan tekhnologi apapun," tandasnya.


Tapal Kuda Terbaru