• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Jumat, 2 Desember 2022

Tokoh

Keistimewaan KH Abdul Hamid Pasuruan, Dari Kealiman hingga Tawadhu

Keistimewaan KH Abdul Hamid Pasuruan, Dari Kealiman hingga Tawadhu
KH Abdul Hamid Pasuruan. Foto: Istimewa
KH Abdul Hamid Pasuruan. Foto: Istimewa

Pasuruan, NU Online Jatim

KH Muhammad Nailurrochman atau Gus Amak menyampaikan testimoni sosok KH Abdul Hamid Pasuruan saat Haul Masayikh bulanan yang dilaksanakan Layanan Digital untuk Nahdliyin (Laduni.ID), Kamis (30/12/2021). Gus Amak merupakan salah satu cucu dari KH Abdul Hamid Pasuruan.

 

Dalam kesempatan itu, Gus Amak menjelaskan bahwa auliya merupakan orang-orang yang berhasil mencintai Allah sekaligus dicintai Allah.

 

“Kita untuk menunjukkan bukti cinta pada Allah saja masih sulit, apalagi mendapat respons cinta dari Allah. Maka orang-orang yang sudah dicintai Allah ini adalah sebuah maqom yang luar biasa dan butuh perjuangan mendapatkannya,” tutur Gus Amak.

 

Lebih lanjut Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Pasuruan tersebut mengatakan, Kiai Hamid merupakan sosok yang sederhana. Hal ini berdasarkan pengakuan salah satu santri Kiai Hamid, KH Ihsan Ketintang Malang.

   

“Saya pernah sowan ke beliau (Kiai Ihsan). Beliau itu buka puasa hanya dengan makan telur setengah matang, kurma, dan kopi. Saat tanya mengapa tidak berbuka dengan nasi, beliau menjawab seperti itulah cara berbuka Kiai Hamid,” ujar Kepala Pesantren Bayt Al-Hikmah Kota Pasuruan tersebut.

           

Menurut Gus Amak, sebagaimana dituliskan dalam buku “Percik-Percik Keteladanan Kiai Hamid” karangan KH Hamid Ahmad, ciri khas dari kakeknya itu merupakan seorang yang sangat tawadhu serta alim baik secara ilmu syari`at, maupun kanuragan.

      

“Saya menyebut dua hal ini bersandingan karena kadang seseorang yang alim itu sulit tawadhu. Ini suatu pelajaran penting bahwa tawadhu dan kehebatan itu bisa berjalan beriringan,” katanya.

 

Disampaikannya, kitab karangan Kiai Hamid yaitu Sullam At-Taufiq telah mendapat pujian dari KH Sahal Mahfudz. Kemampuan mengarang nadham dalam kitab, merepresentasikan keilmuan Kiai Hamid dalam menguasai kitab Juman (kitab balaghah).

 

Selain itu, keistimewaan lainnya adalah keistiqamahan untuk shalat berjamaah dan mengkhatamkan Al-Qur`an setiap sepekan sekali. Hal tersebut diceritakan langsung oleh KH Idris Hamid, ayah Gus Amak.

            

“Keistiqamahan lainnya adalah membaca surah Al-fatihah 100 kali sehari. Saya mendapat cerita dari santri beliau yang langsung mendapat ijazah ini bahwasanya yang melanggengkan membacanya, maka akan menemukan keajaiban-keajaiban yang tersembunyi,” terang Gus Amak.

  

Sebagai tamu undangan, Gus Amak mengaku sangat mendukung adanya kegiatan haul masayikh bulanan ini. Sebab, haul yang disesuaikan bulan wafat para ulama sekaligus mengulas biografinya menjadikan masyarakat semakin mengenal kiai-kiai nusantara.


Editor:

Tokoh Terbaru