• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Minggu, 3 Maret 2024

Keislaman

Menggaruk Kepala Apakah Membatalkan Shalat?

Menggaruk Kepala Apakah Membatalkan Shalat?
Ilustrasi menggaruk kepala (Foto:NOJ/karomi)
Ilustrasi menggaruk kepala (Foto:NOJ/karomi)

Shalat adalah ibadah yang memiliki sejumlah aturan dan larangan, sehingga pelaku shalat dapat menjalankan shalat dengan tenang dan khusyuk. Di antara beberapa hal yang harus diperhatikan adalah mengetahui perkara yang membatalkan shalat.


Salah satu perkara yang membatalkan shalat adalah bergeraknya bagian tubuh seseorang dalam jumlah yang banyak. Lantas bagaimana jika jari-jari menggaruk kepala, apakah dapat membatalkan shalat? 

 

Perlu dipahami bersama maksud bergerak dalam jumlah banyak. Para ulama mazhab Syafi’i menjelaskan, sebuah gerakan terhitung banyak ketika berlangsung tiga kali secara berturut-turut (atau beriringan tanpa jeda) yang cukup lama.  Berbeda halnya ketika tiga gerakan tersebut dilaksanakan dengan jeda cukup lama, sekira gerakan pertama dianggap sudah terputus dari gerakan kedua, maka gerakan yang pertama sudah tidak dihitung lagi. 


Menurut Imam Al-Baghawi terputusnya suatu gerakan dalam shalat adalah ketika terdapat jeda sekitar satu rakaat shalat. Ketentuan ini seperti halnya yang dikutip oleh Imam an-Nawawi dalam kitabnya, Raudhah at-Thalibin wa ‘Umdah al-Muftin:


 وحد التفريق أن يعد الثاني منقطعا عن الأول وقال في التهذيب عندي أن يكون بينهما قدر ركعة 


Sedangkan di dalam kitab Fath al-Mu’in dijelaskan: 


وإمرار اليد وردها على التوالي بالحك مرة واحدة، وكذا رفعها عن صدره ووضعها على موضع الحك مرة واحدة أي إن اتصل أحدهما بالآخر، وإلا فكل مرة، على ما استظهره شيخنا.


Artinya: “Menggerakkan tangan dan mengembalikannya secara beriringan itu dihitung satu hitungan, begitu pula mengangkat tangan dari dada dan meletakkan tangan di tempat menggaruk dihitung satu hitungan jika dilaksanakan secara langsung (ittishal), jika tidak langsung maka setiap jeda dihitung satu kali hitungan. Ketentuan ini berdasarkan penjelasan yang dijelaskan oleh guruku (Imam Ibnu Hajar).” (Syekh Zainuddin al-Maliabari, Fath al-Mu’in, juz 1, hal. 251)


Hanya saja, ketentuan di atas tidak berlaku bagi gerakan-gerakan kecil, seperti gerakan jari-jari, bibir dan lidah. Sehingga, menggaruk dengan jari-jari pada bagian tubuh yang gatal walaupun dilakukan berulang-ulang dan lebih dari hitungan tiga kali tetap dianggap sebagai hal yang diperbolehkan dan tidak membatalkan shalat, selama telapak tangan tidak ikut bergerak. Hanya saja menggerakkan jari-jari dengan jumlah yang banyak ini dihukumi makruh.


لا ( تبطل ) بحركات خفيفة( وإن كثرت وتوالت، بل تكره، ) كتحريك ( أصبع أو ) أصابع ( في حك أو سبحة مع قرار كفه، ) أو جفن ( أوشفة أو ذكر أو لسان، لانها تابعة لمحالها المستقرة كالاصابع 


Artinya: “(Shalat) tidak batal dengan gerakan yang ringan, meskipun dalam jumlah yang banyak dan dilakukan beriringan, hanya saja dihukumi makruh. Seperti menggerakkan satu jari atau beberapa jari untuk menggaruk (kulit) atau bertasbih besertaan tetapnya (tidak bergeraknya) telapak tangan. Atau bergeraknya pelupuk mata, bibir, zakar, dan lisan, karena bagian tubuh tersebut mengikuti terhadap tempat menetapnya, seperti jari-jari (mengikuti tangan).” (Syekh Zainuddin al-Maliabari, Fath al-Mu’in, juz 1, hal. 250)


Dengan demikian, gerakan yang disertai jeda semisal menggerakkan tangan ke arah salah satu anggota tubuh atau ke arah kepala, lalu tangan itu diam sebentar untuk memberikan jeda, kemudian jari tangannya (tanpa menggerakkan telapak tangan) digarukkan ke rambut kepala, ini tidak membatalkan shalat. 


Editor:

Keislaman Terbaru