• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Selasa, 6 Desember 2022

Pustaka

Menjadikan Manusia sebagai Hamba Sejati

Menjadikan Manusia sebagai Hamba Sejati
Buku 'Gerak Trigonal Manusia'. (Foto: NOJ/ Musyfiqur Rozi)
Buku 'Gerak Trigonal Manusia'. (Foto: NOJ/ Musyfiqur Rozi)

Pada hitthahnya, manusia diciptakan untuk menyembah dan mengabdikan diri. Namun, pada kenyataannya, banyak dari kalangan manusia keluar dari jalannya. Sejauh ini, bentuk pengabdian dan penghambaan manusia pada tuhannya hanya terdapat pada bagian luarnya saja, belum sampai pada inti dari penghambaan itu sendiri. Mereka beribadah sebatas ritual dan tidak tahu makna, isi kandungan, dan tujuan dari ibadah itu sendiri. Bahkan, ada yang tersesat di jalannya.


Buku yang ditulis oleh M Afif Hasan berusaha mengungkap dan menyadarkan kembali kepada kita jalan yang harus ditempuh sebagai hamba. Sebab, banyak dari kita lupa akan tugas yang Tuhan berikan dan keluar dari tujuan awal penciptaan manusia.


Ada tiga hubungan yang harus dilaksanakan manusia di muka bumi. Interaksi manusia kepada sang pencipta, sesama dan terhadap dirinya adalah gerak trigonal yang tidak bisa dipisah antara satu dan lainnya. Ketiganya harus dijalani sesuai kodrat dan takarannya.


Pertama, adalah menghamba. Yakni mengabdikan diri dan selalu mendekatkan diri sebagaimana tujuan awal manusia diciptakan (al-Dzariyat: 56). Karena, di dunia terdapat dua sisi yang tak bisa dipisahkan, yakni sisi baik dan buruk. Manusia, dengan akal dan hatinya, harus memilih di antara keduanya. Jika terlalu mengandalkan hati dan menafikan akal, maka akan mudah disesatkan. Sebaliknya, jika terlalu mengandalkan akal dan menafikan hati akan terjebak pada suatu pemahaman yang keliru dan bahkan bisa menyesatkan.


Agama dengan Al-Qur’an sebagai kitab panduannya memberi petunjuk kepada manusia. Yakni, dengan memberi arahan, menganjurkan hal yang baik, dan melarang keburukan. Akal manusia diberi pemahaman agar bisa memahami isi kandungan Al-Qur’an. Sehingga, dengan agama manusia hidup di jalan yang tepat dan tidak tersesat dalam mencari Tuhannya.


Allah memberi dua takdir kepada manusia. Pertama, hak prerogatif-Nya secara mutlak. Manusia tidak bisa melakukan apa-apa. Manusia sebagai bonekaNya. Kedua, sharing manusia dengan Allah sebagai penguasa takdir manusia. (Hal. 43)

 

Tuhan memberikan kebebasan manusia hidup di muka bumi. Namun juga menurunkan wahyu melalui Rasulullah sebagai pedoman, panduan dan aturan agar manusia tidak salah memilih jalan dan hidup sesuai norma dan keharusannya. Jika tidak diimbangi dengan aturan, manusia akan hidup seenaknya dan akan membabi buta di muka bumi.


Sudah jelas dengan adanya wahyu, namun tetap saja banyak kerusakan di muka bumi. Karena manusia mengedepankan akal dari pada aturan yang harus dijalani. Dengan akal, manusia membolak-balik aturan atau hukum yang ada demi memuluskan stimulus mereka. Bahkan dengan pengetahuan bisa mengantarkan mereka pada jalan yang sesat. Banyak orang pintar, tapi tidak benar. Ilmunya menyinar, jalannya kesasar.


Yang diutamakan dalam ibadah adalah kehambaan dan penghambaan. Artinya kegiatan bekerja sebagai profesional dan mencari ilmu dicelah-celah ibadah, bukan ibadah dicelah pekerjaan atau mencari ilmu. Ibadah adalah tugas utama bukan sambilan dan mencari ilmu dan makan adalah sambilan dari ibadah. Inilah yang membedakan manusia dan hewan atau muslim dengan kafir. (Hal. 113)


Bagian dua, pengetahuan. Manusia dituntut belajar, mencari ilmu. Tuhan tidak sekadar memerintahkan beribadah semata, namun juga tuntutan untuk belajar. Sebab, terutusnya manusia ke bumi juga tak lepas dari amanah untuk menjadi khalifah (Al-Baqarah: 30). Dengan ilmu yang dimiliki, lebih gampang mengenal Tuhannya. Namun, terkadang juga dengan ilmunya manusia tersesat dan menyesatkan. Na’udzubillah.


Seorang pemimpin dituntut terpelajar dan berilmu. Sebab dia akan menjadi rujukan segala permasalahan dan memutuskan permasalahan yang terjadi. Masing masing dari kita akan menjadi pemimpin dan akan dipertanggungjawabkan ke pemimpinannya. Bisa dibayangkan jika pemimpin tidak banyak ilmu, dirinya akan dibodohi, dipengaruhi oleh sesuatu yang –bisa saja– menyimpang atau bahkan keluar dari ajaran agama Islam.


Ada banyak hadits Nabi yang seringkali kita dengar dalam ceramah atau pidato tentang keharusan mencari ilmu atau pengetahuan. Tuntutlah ilmu walau ke negeri China. Tuntutlah ilmu dari buaian sampai liang lahat. Dalam hadits lain disebutkan, sesungguhnya tidurnya orang alim lebih baik dari pada tidurnya orang bodoh.


Terakhir, Tuhan tidak sekadar mengutus manusia sebatang kara, tapi juga memberi kebutuhan pokok manusia di muka bumi. Untuk mencari ilmu, mencari tuhannya, manusia jangan sampai teledor atau lupa akan keharusan terhadap dirinya. Makan, tidur, istirahat dan semacamnya.


Sebagai hamba, manusia diberi kebebasan memilih di muka bumi. Menjadi hamba yang bersyukur atau kufur. Menjadi manusia yang dipenuhi ambisi atau menghamba. Jangan sampai salah mengartikan keharusan. Saking khusuk beribadah sampai lupa istirahat, lupa makan, lupa tidur. Sebab, hal demikian akan mengkufuri nikmatnya makan, tidur dan sebagainya. Hiduplah ala kadar dan kodratnya.


Segala aktivitas duniawi yang dibarengi dengan rasa ikhlas akan berbuah ibadah. Ikhlas pekerjaan hati yang menjadi motor penggerak untuk beraktivitas dan beramal saleh. Karena orang ikhlas musuh terbesar dan terberat bagi syetan. (Hal. 125)


Semoga hadirnya buku ini bisa menyadarkan kembali kealpaan yang dilakukan oleh manusia.
 

Identitas Buku:

Judul Buku: Gerak Trigonal Manusia (Mencari Tuhan, Mencari Pengetahuan, Mencari Makan)
Penulis: M Afif Hasan
Penerbit: Instika Press​​​​​​​
Tahun Terbit: 2020
ISBN: 978-623-92086-7-7
Peresensi: Musyfiqur Rozi, Alumni Pondok Pesantren Annuqayah sekaligus Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Ampel Surabaya.


Pustaka Terbaru