Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Keislaman Tokoh Khutbah Opini Nusiana Rehat Jujugan Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka

Gus Baha dan Cara Beragama dengan Riang Gembira

Gus Baha dan Cara Beragama dengan Riang Gembira
Mengenal lebih dekat sosok Gus Baha. (Foto: NOJ/AAm)
Mengenal lebih dekat sosok Gus Baha. (Foto: NOJ/AAm)

Gus Baha atau kiai dengan nama lengkap KH Bahauddin Nursalim belakangan cukup populer di kalangan masyarakat Indonesia. Ceramah-ceramahnya di kanal Youtube selalu ditunggu-tunggu kelompok milenial muslim.

 

Hal itu bisa dibuktikan dari setiap tayangan video yang diunggah salah satu akun jamaah pengajiannya. Ceramah-ceramahnya tersebut selalu ramai ditonton. Dalam satu hari saja, tayangan ceramah Gus Baha bisa mencapai ribuan penonton.

 

Santri KH Maimoen Zubair ini merupakan pendakwah yang menampilkan citra Islam yang rileks, mudah dan bahagia. Orang-orang yang menyimak pengajian Gus Baha cenderung riang gembira Pendengar menjadi lebih paham bahwa Islam yang kita anut ini sebagai agama yang mudah, agama yang tidak mempersulit hamba-Nya.

 

 

Tak ayal, Gus Baha kerap menyebut bahwa beragama itu harus dilalui dengan rasa bahagia. Gus Baha justru menganggap aneh jika orang yang punya Tuhan tetapi hidupnya penuh dengan emosi, sering kecewa dan terlalu serius. Itulah sebabnya dalam setiap pengajian Gus Baha selalu terdengar dan tergelak tawa bahagia dari para jamaahnya.

 

Namun, yang juga harus tahu dari sosok Gus Baha merupakan fenomena baru dalam konteks dakwah di dunia virtual. Gus Baha tetap mempertahankan unsur lokalitasnya, ceramah-ceramah Gus Baha mampu masuk ke berbagai lingkaran pendengar. Tidak hanya itu, Gus Baha dan ceramah-ceramahnya mampu melampaui batas-batas ideologi dan sekat-sekat antropologis di tengah terkotak-kotaknya medan dakwah di dunia virtual.  

 

Dengan tampilannya yang khas dan sosoknya yang apa adanya, Gus Baha dengan cepat menjadi role model seorang kiai, tokoh agama, dan ulama yang kosmopolit nan dekat dengan masyarakat. Jika kita menelusuri tayangan-tayangan pengajian Gus Baha di platform media sosial atau youtube, bisa diperhatikan materi-materi Gus Baha yang cenderung menggunakan logika al-Qur’an. Belum lagi materi cara menjadi wali dan substansial ibadah menjadi tema yang tak pernah  dilepaskan oleh seorang Gus Baha.

 

 

Mungkin bagi sebagian masyarakat awam, materi-materi dakwah Gus Baha ‘bikin mumet’. Tetapi dengan cara Gus Baha yang menjelaskan dengan gaya yang mudah ditangkap, tema-tema kelas tinggi tersebut mampu membumi dan melunak dalam pemahaman jamaah dan para pendengar setianya.

 

Gus Baha merupakan ulama Nahdlatul Ulama (NU) asal Nurukan, Krangan, Jawa Tengah. Ia adalah ahli tafsir yang memiliki pengetahuan yang mendalam seputar al-Qur’an. Gus Baha menjadi dambaan masyarakat muslim Indonesia di tengah hiruk pikuk masalah keagamaan yang menyelimuti bangsa Indonesia.

 

Rais Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) ini seolah tidak pernah reaktif terhadap setiap dinamika yang terjadi di Indonesia. Namun, melalui pengajian-pengajiannya di masjid atau mushala, Gus Baha selalu mengungkap hal-hal yang seyogianya menjadi solusi bagi masyarakat era sekarang dalam menghadapi fenomena hidup. 

 

Gambaran di atas menjadi bagian terkecil yang diungkap buku ‘Islam Santuy ala Gus Baha’ yang disunting M Khoirul Huda dan diedit oleh Hilmy Firdausy.

 

 

Buku ini sangat relevan dengan kondisi bangsa Indonesia saat ini agar tidak salah kaprah memaknai Islam. Ada lima bagian dari buku yang diterbitkan Harakah Books tersebut.

 

Bagian pertama terdiri dari, biografi Gus Baha, nasab dalam pandangan Gus Baha, serta ulasan Kang Rukhin dan Kang Mustofa yang riang gembira dalam beragama. Sedangkan bagian kedua, terdiri dari; ulasan tetap beribadah meski belum bisa lepas dari maksiat, ulasan ceramah Gus Baha tentang dimensi sosial dan aspek solidaritas dalam ibadah. Bagian ketiga sampai bagian kelima silakan dapat membaca ya guys!

 

Identitas Buku

Judul Buku: Islam Santuy ala Gus Baha

Penyuting: M Khoirul Huda

Editor: Hilmy Firdausy

Penerbit: Harakah Book

Terbit : 2020

Tebal: 170 hal

Peresensi: Abdul Rahman Ahdori​​​​

PWNU Jatim Harlah