Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Keislaman Tokoh Khutbah Opini Nusiana Rehat Jujugan Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Imsakiyah

Ketua IPPNU Jatim Angkat Bicara soal Milenial Terjebak Terorisme

Ketua IPPNU Jatim Angkat Bicara soal Milenial Terjebak Terorisme
Puput Kurniawati, Ketua PW IPPNU Jatim. (Foto: NOJ/ Mirna Nur Asyiah)
Puput Kurniawati, Ketua PW IPPNU Jatim. (Foto: NOJ/ Mirna Nur Asyiah)

Madiun, NU Online Jatim

Ketua Pimpinan Wilayah (PW) Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Jawa Timur, Puput Kurniawati menanggapi aksi penyerangan Markas Besar (mabes) Polri di Jakarta, Rabu (31/03/2021) lalu.

 

Penyerangan tersebut dilakukan oleh seorang perempuan yang kini diketahui bernama Zakiah Aini. Pelaku ini masih berusia 25 tahun atau merupakan kalangan milenial.

 

Puput sapaan akrab Ketua PW IPPNU Jatim menyampaikan, aksi yang dilakukan oleh peneror tersebut terlalu nekad. Meski begitu dirinya berfikir bahwa aksi tersebut tentu tidak terlaksana secara tiba-tiba, tetapi sudah terdoktrin sejak lama.

 

"Jika sekarang muncul aksi teror seperti itu, mungkin saja itu karena kelalaian kita beberapa tahun silam. Sehingga organisasi radikal masih bergerak massif dan mampu menghasilkan kader militan, yang saat ini menunjukkan aksinya," katanya kepada NU Online Jatim, Kamis (01/04/2021).

 

Ia mengingatkan supaya peristiwa tersebut tidak menjadi pemicu timbulnya rasa takut yang berlebihan. Karena peristiwa teror tujuannya adalah menebar rasa takut di masyarakat. Sehingga tidak boleh membuat peneror merasa menang atas ketakutan yang dibuat.

 

Dalam surat wasiat yang ditinggalkan oleh pelaku menyebutkan bahwa tindakannya adalah untuk menyelamatkan keluarganya. Dengan mengatasnamakan jihad di jalan Allah, sehingga menurutnya Allah akan memberikan syafaat atas apa yang dilakukannya.

 

Menurut Puput, gerakan teror dengan mengatasnamakan jihad itu menandakan adanya penyempitan makna jihad. Oleh karenanya IPPNU perlu mengambil peran untuk meluruskan pemahaman agama yang dipahami secara pendek dan sempit.

 

"Itulah pentingnya mengikuti IPPNU, agar kita bisa menyambung sanad dengan para masyayikh dan ulama NU. Disamping mengamalkan ukhuwah Islamiyah juga ukhuwah wathaniyah. Sehingga keyakinan tidak mudah goyah ketika seseorang mempunyai tokoh yang dijadikan panutan," terangnya.

 

Ditegaskan bahwa IPPNU harus lebih fokus dalam menggarap Pimpinan Komisariat (PK) khususnya di Perguruan Tinggi. 

 

"Pelaku teror ini masih muda. Maka kemungkinan besar pemuda yang masih dalam masa mencari jati diri, mudah untuk dipengaruhi jika tidak mempunyai keyakinan yang teguh. Rasa ingin tahu yang besar jika tidak diarahkan ke jalan yang benar malah akan menjerumuskan mengikuti doktrin radikal," ungkap Puput.

 

Dirinya juga berharap agar organisasi mahasiswa Islam yang mencintai NKRI dapat bersatu dalam menjaga keutuhan bangsa dan negara.

 

 

"Kini sudah tidak waktunya Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI), IPPNU dan organisasi Islam lainnya saling sikut-sikutan berebut panggung. Namun gerakannya adalah harus bersatu menjadikan radikalisme sebagai musuh bersama yang harus dihadapi dan diselesaikan bersama," pungkasnya.

 

Editor: Romza

Iklan promosi NU Online Jatim