Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Keislaman Tokoh Khutbah Opini Nusiana Rehat Jujugan Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Imsakiyah

Kisah Muadzin Wahid: Doa yang Tertukar

Kisah Muadzin Wahid: Doa yang Tertukar
Maunya doa habis adzan, ternyata.......
Maunya doa habis adzan, ternyata.......

Kelebihan Wahid yang pinter menulis pegon dan baca Al-Quran bukanlah hal istimewa. Toh di kemudian hari kawan-kawannya juga mahir membuat makna gandul yang dicantumkan di bawah teks cetakan. Namun yang susah ditandingi dari Wahid adalah suaranya yang empuk, dan meliuk-liuk. Inilah modal utama yang menjadikannya juara bertahan lomba adzan se-karasidenan tingkat Sekolah Dasar dan yang setara.

 

Begitulah keterangan yang dihaturkan Pak Kasan, orang tua Wahid ketika menyerahkan Wahid kepada Kiai Madun. "Kalau di kampung kiai, Si Wahid ini sering diminta untuk menggantikan marbut, terutama ketika hari Jumat," katanya sambil matanya melihat ke Wahid.

 

"Untuk menggantikan adzan..?" tanya Kiai Madun.

 

"Bukan kiai, untuk nggelar karpet," jawab Pak Kasan sambil senyum-senyum.

 

Kiai Madun sangat baik merespons kehadiran Wahid di pesantrennya. Setelah beberapa bulan beradaptasi, akhirnya Wahid berhasil menjadi muadzin tetap di pesantren atas restu Kiai Madun. Mulai saat itu hampir tidak ada adzan yang berkumandang di sana kecuali suara Wahid yang terdengar.

 

Beberapa hari yang lalu, tepatnya hari Asyuro, hari kesepuluh bulan Muharram, Wahid bertekad melaksanakan puasa sunnah. Inilah puasa sunnah pertama kali yang dijalaninya selama hidup. Betapa beratnya menahan haus di terik panas mentari. Juga betapa beratnya ia menyembunyikan puasanya dari kawan lainnya. Ia sangat khawatir dan malu bila kawan-kawannya tahu tentang puasa sunnahnya di hari Asyuro ini.

 

Untuk menutupi puasa sunnahnya, ketika waktu Maghrib tiba, Wahid tidak mau terlihat berbuka puasa, seperti lazimnya orang berpuasa. Seperti biasa ia langsung ambil kendali penuh terhadap mikropon di mushala dan melantunlah suara adzan yang membahana. Tanpa diperintah, santri-santri mulai berdatangan mengisi shaf, duduk di atas sajadah, dan sebagian yang lain tetap berdiri bersiap-siap melaksanakan shalat sunnah qabliyah Maghrib, setelah adzan.

 

"Allahuakbar allahuakbar....La ilaha illa Allah"

 

Suara Wahid agak merendah, tanda adzan mulai berakhir. Wahid pun menutup adzannya dengan sebuah doa. Doa inilah yang membuat santri se-mushalla saling pandang. Dengan suara lirih dan mantap terdengar di pengeras suara "Allahumma lakashumtu wa bika amantu wa ala rizqika afthartu, birahmatika ya arhamar rahimin."

 

Tampaknya Wahid sudah tidak sabar berbuka puasa karena ia salah membaca doa.

Iklan promosi NU Online Jatim