Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Keislaman Tokoh Khutbah Opini Nusiana Rehat Jujugan Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Imsakiyah

Mengenang Kepergian Kiai Mahfudz Basya, Mustasyar PCNU Probolinggo

Mengenang Kepergian Kiai Mahfudz Basya, Mustasyar PCNU Probolinggo
Almarhum KH Mahfudz Basya. (Foto: NOJ/SN)
Almarhum KH Mahfudz Basya. (Foto: NOJ/SN)

Probolinggo, NU Online Jatim

Semasa hidupnya, KH Mahfudz Basya sering melontarkan kalimat-kalimat motivasi dan nasihat kepada santri sewaktu ngaji kitab pagi.

 

"Jadilah santri di manapun kalian berada. Jagalah akhlaqul karimah, jangan lupakan shalat tahajud dluha. Dan jangan pernah lupa untuk meluangkan waktu untuk membaca Al Quran setiap hari," katanya semasa hidup.

 

Kiai yang mempunyai panggilan akrab Nun Mahfudz itu adalah Mustasyar Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Probolinggo sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren Darul Mukhlashin, Tegalsiwalan, Kabupaten Probolinggo.

 

Sejak kepergiannya ke hadapan Sang Khalik pada tanggal Rabu (03/03/2021) lalu menyisakan duka mendalam bagi shahibul bait pesantren, santri, alumni, hingga simpatisan Pondok Pesantren Darul Mukhlashin. Ribuan santri hingga alumni dan seluruh masyarakat mengiringi wafatnya salah satu guru agung di pondok pesantren ini.

 

H Moh Khusnu Milad, anak pertama dari Kiai Mahfudz ini mengungkapkan bahwa ayahnya adalah sosok yang sangat sabar dan sangat mengayomi keluarga maupun santrinya. Hal serupa juga di sampaikan oleh Faizatul Fatmala, santriwati yang setiap hari membersihkan kamar Kiai Mahfudz.

 

"Kiai adalah sosok yang sangat sabar. Bahkan beliau tidak pernah marah kepada siapapun itu," terangnya.

 

Menurut Gus Milad latar belakang berdirinya Pondok Pesantren Darul Mukhlashin ini adalah ketika Kiai Mahfudz beserta ayahandanya Kiai Mukhlas Ahmad Ghozi pulang dari suatu pengajian dan melewati daerah Tegalsiwalan. Kemudian mereka melihat sebuah tanah, dan di situ Kyai Mukhlas Ahmad Ghozi menyarankan kepada putranya Kiai Mahfudz Basya untuk menukarkan tanah sawah dengan tanah kering. Kemudian Kiai Mahfudz Basya diamanahi oleh ayahandanya untuk membangun rumah dan masjid di sana.

 

"Jadi kalau mau bangun rumah harus ada masjidnya, itu pesan Mbah Mukhlas kepada ayah," ujar Gus Milad.

 

Kemudian Kiai Mahfudz setelah selesai pembangunan rumah dan masjid pada tahun 2003, mulai menetap di Tegalsiwalan. Tanpa disangka ada anak yang mau mondok di sana tanpa asrama. Kemudian karena ada anak yang niat mondok atau nyantri terhadap beliau. Akhirnya di bangunlah sedikit demi sedikit kamar santri. Meskipun dulu cuma sebatas dari kayu atau bambu beratapkan genteng saja. 

 

"Hingga akhirnya sedikit demi sedikit kiai mulai membangun MTs yang diatasnya ada Aula, kemudian SDI, MA, SMK dan SMA lah yang terakhir," ucap Gus Milad.

 

Menurutnya pesan Kiai Mahfudz yang sangat membekas di benak Gus Milad adalah khidmah kepada NU.

 

"Jangan lupa untuk berkhidmat kepada NU, karena di NU banyak barokahnya. Itu yang selalu saya ingat," ungkapnya.

 

Sejak saat itu, ketika Gus Milad di butuhkan oleh NU, apapun itu selagi masih bisa baik dari waktu, tenaga hingga materi akan diberikan semuanya kepada NU. Juga saat dimintai keterangan oleh wartawan NU Online Jatim, Ahad (07/03/2021).

 

Gus Milad yang masih tercatat sebagai dosen UIN Sunan Ampel Surabaya juga memaparkan  harapan kepada semua santri agar terus berkarya dan memegang Ahlussunnah wal Jamaah.

 

"Teruslah berkarya, teruslah menjalankan kehidupan sesuai kaidah Ahlussunnah wal Jamaah dan sampai kapan pun menjadi seorang santri baik itu secara perbuatan maupun perkataan, lebih-lebih dalam amal ibadahnya," pungkasnya.

 

Editor: Risma Savhira

Iklan promosi NU Online Jatim