Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Keislaman Tokoh Khutbah Opini Nusiana Rehat Jujugan Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Imsakiyah

Rioyo Kupat, Warga di Tulungagung Gantung Ketupat di Pintu Rumah

Rioyo Kupat, Warga di Tulungagung Gantung Ketupat di Pintu Rumah
Seorang warga sedang menggantung ketupat di atas pintu rumah. (Foto: Ist).
Seorang warga sedang menggantung ketupat di atas pintu rumah. (Foto: Ist).

Tulungagung, NU Online Jatim

‘Rioyo Kupat’ merupakan istilah yang kerap dipakai warga Kabupaten Tulungagung dalam rangka lebaran kecil setelah menjalankan puasa enam hari pada Bulan Syawal. Biasanya diadakan pada tanggal delapan pada bulan tersebut.

 

Ketupat menjadi menu utama pada kegiatan tersebut. Sayur lodeh, lodho, dan urap-urap menjadi menu pelengkap. Masyarakat datang membawa ketupat ke masjid atau mushala, kemudian dimakan bersama. Ada juga sebagian warga yang memberikan ketupat dan seluruh menu pelengkap lainnya kepada tetangga sekitar.

 

Uniknya, terdapat sebuah kebiasaan masyarakat untuk menyisihkan beberapa ketupat. Lantas, ketupat yang disisihkan tersebut dipasang atau digantung di atas pintu rumah.

 

Hariyono, warga Desa Jatidowo Kecamatan Rejotangan Kabupaten Tulungagung menuturkan, bahwa menggantung ketupat di atas pintu rumah sudah dilakukannya sejak kecil. Menurutnya, kebiasaan tersebut telah diajarkan oleh ibunya sejak dahulu.

 

"Sampai saat ini, saya masih melaksanakan kebiasaan tersebut. Anggap saja sebagai bukti bahwa kita telah merayakan lebaran ketupat pada Bulan Syawal ini," ungkap Hariyono, Kamis (20/05/2021).

 

Sementara itu, Muhammad Syaifullah, tokoh muda Nahdlatul Ulama (NU) Kecamatan Rejotangan membenarkan akan kebiasaan turun temurun tersebut. Dirinya menceritakan, bahwa pada masa Sunan Kalijaga, ketupat yang dimasak lumrah dibagikan kepada tetangga. Hal tersebut menurutnya diadaptasi dari tradisi Jawa tempo dulu.

 

"Jadi sangat wajar jika tercampur dengan kepercayaan terdahulu dan disertai hal-hal magis," katanya kepada NU Online Jatim.

 

Ia menjelaskan, bahwa sebagian masyarakat beranggapan ketupat yang digantung di atas pintu tersebut merupakan wujud penghormatan kepada roh keluarga yang telah meninggal dunia.

 

"Secara logika, ketupat sengaja digantung untuk menunjukan kepada tetangga, bahwa rumah tersebut memiliki ketupat untuk dimakan bersama," ungkap Dosen Institut Agama Islam (IAI) Pangeran Diponegoro Kabupaten Nganjuk itu.

 

Dosen muda yang gencar melestarikan budaya ini berharap, warga yang menggantung ketupat di atas pintu tidak memegang kepercayaan yang menuju syirik dan khurafat.

 

"Jadikan ketupat sebagai wujud syukur atas perjuangan kita di Bulan Ramadlan dan puasa di awal Bulan Syawal," tandas Syaiful, sapaannya.

 

Editor: A Habiburrahman


Editor:
F1 Bank Jatim