Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Keislaman Tokoh Khutbah Opini Nusiana Rehat Jujugan Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Imsakiyah

Siti Khadijah, Perempuan Teladan Berpulang pada 11 Ramadlan

Siti Khadijah, Perempuan Teladan Berpulang pada 11 Ramadlan
11 Ramadlan adalah waktu meninggalnya Siti Khadijah, istri Rasulullah. (Foto: NOJ/NUO)
11 Ramadlan adalah waktu meninggalnya Siti Khadijah, istri Rasulullah. (Foto: NOJ/NUO)

Siti Khadijah binti Khuwailid istri pertama Rasulullah SAW. Khadijah perempuan terkaya kala itu, hampir dua pertiga wilayah Makkah adalah milik Khadijah. Perempuan bangsawan yang menyandang kemuliaan dan kelimpahan harta kekayaan. Namun ketika wafat, tak selembar kafan pun dia miliki. Bahkan baju yang dikenakan di saat menjelang ajal adalah pakaian kumuh dengan 83 tambalan.

 

Dalam sejumlah sirah nabawiyah, Siti Khadijah wafat pada bulan Ramadlan tahun ke-10 kenabian. Lebih detail Sayyid Muhammad bin Alwi al-Maliky al-Hasan dalam kitab Al-Busyro fil Manaqib Sayyidati Khodijah al-Kubro menulis sang ummul mukminin itu berpulang pada hari ke-11 bulan Ramadlan.

 

Beberapa saat sebelum meninggal, perempuan pertama yang mengakui kenabian Muhammad SAW itu menyampaikan permintaan terakhirnya: Ya Rasulullah aku memohon maaf kepadamu, jika selama menjadi istrimu aku belum berbakti kepadamu,” kata Khadijah seperti dikutip kitab Al-Busyro fil Manaqib Sayyidati Khodijah al-Kubro halaman 16.

 

Mendengar perkataan sang istri, Rasulullah menjawab: Jauh dari itu ya Khadijah. Engkau telah mendukung dakwah Islam sepenuhnya,” jawab Rasulullah.

 

Dengan nada lirih, Khadijah berkata Kepada Rasulullah SAW, bahwa dirinya sudah tak punya apa-apa lagi untuk mendukung perjuangan Islam. Seluruh hartanya telah habis. Sementara perjuangan Rasulullah SAW dalam menyebarkan Islam belumlah selesai.

 

"Wahai Rasulullah seandainya nanti aku mati sedangkan perjuanganmu ini belum selesai, sekiranya engkau hendak menyeberangi sebuah lautan, sekiranya engkau hendak menyeberangi sungai, namun engkau tidak memperoleh rakit atau jembatan, maka galilah lubang kuburku. Jadikanlah sebagai jembatan untuk kau menyeberangi sungai itu supaya engkau bisa melanjutkan dakwahmu," kata Khadijah.

 

Menjelang ajalnya pun, Khadijah tidak berani meminta sesuatu kepada Rasulullah. Dipanggillah Fatimah putri satu-satunya: “Ya Fatimah putriku, aku yakin ajalku segera tiba,” bisik Khadijah kepada Fatimah sesaat jelang ajal.

 

“Yang kutakutkan adalah siksa kubur. Tolong mintakan kepada ayahmu, agar beliau memberikan sorbannya yang biasa digunakan menerima wahyu untuk dijadikan kain kafanku. Aku malu dan takut memintanya sendiri,” kata Khadijah dengan suara lirih kepada putri semata wayangnya itu.

 

Mendengar hal itu Rasulullah berkata: “Wahai Khadijah, Allah menitipkan salam kepadamu, dan telah dipersiapkan tempatmu di surga,” kata Rasulullah SAW dan disambut senyum Khadijah.

 

Tak lama mendengar itu, ummul mukminin (ibu kaum mukmin), pun menghembuskan nafas terakhirnya di pangkuan Rasulullah. Didekapnya sang istri itu dengan perasaan pilu yang teramat sangat. Tumpahlah air mata mulia Rasulullah dan semua orang yang ada di situ.

 

Dalam suasana tangis dan duka menyelimuti keluarga Rasulullah SAW, malaikat Jibril turun dengan mengucap salam dan membawa lima kain kafan. Kemudian Rasulullah menjawab salam Jibril dan bertanya: “Untuk siapa sajakah kain kafan itu, ya Jibril?” tanya Rasulullah.

 

“Kafan ini untuk Khadijah, untuk engkau ya Rasulullah, untuk Fatimah, Ali dan Hasan,” jawab Jibril yang tiba-tiba berhenti berkata, kemudian menangis. Rasulullah lalu bertanya: “Kenapa, ya Jibril?”

 

“Cucumu yang satu, Husain, tidak memiliki kafan. Dia akan dibantai, tergeletak tanpa kafan dan tak dimandikan,” jawab Jibril.

 

Setelah mendengar jawaban Jibril, Rasulullah berkata di dekat jasad Khadijah: “Wahai Khadijah istriku sayang, demi Allah, aku tak kan pernah mendapatkan istri sepertimu. Pengabdianmu kepada Islam dan diriku sungguh luar biasa. Allah Maha mengetahui semua amalanmu. Semua hartamu kau hibahkan untuk Islam. Kaum muslimin pun ikut menikmatinya. Semua pakaian kaum muslimin dan pakaianku ini juga darimu. Namun begitu, mengapa permohonan terakhirmu kepadaku hanyalah selembar sorban!?”

 

Rasulullah pun tampak sedih. “Oh Khadijahku sayang, kau meninggalkanku sendirian dalam perjuanganku. Siapa lagi yang akan membantuku?” “Aku, ya Rasulullah!” sahut Ali bin Abi Thalib. Sang menantu saat di samping Rasulullah.

 

Di samping jasad Siti Khadijah, Rasulullah kemudian berdoa kepada Allah.

 

“Ya Allah, ya ilahi rabbi, limpahkanlah rahmat-Mu kepada Khadijahku, yang selalu membantuku dalam menegakkan Islam, mempercayaiku pada saat orang lain menentangku, menyenangkanku pada saat orang lain menyusahkanku, menenteramkanku pada saat orang lain membuatku gelisah.”

 

Moch Rofi’i Boenawi adalah Dosen Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Azhar, Menganti, Gresik.

Iklan promosi NU Online Jatim