• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Selasa, 27 September 2022

Tokoh

Cerita Syaikhona Kholil saat Nyantri ke Kiai Bashar Banyuwangi

Cerita Syaikhona Kholil saat Nyantri ke Kiai Bashar Banyuwangi
Ra Karror, cicit Syaikhona Kholil Bangkalan, saat hadir di acara megengan di maqbarah KH Abdul Bashar Setail, Banyuwangi. (Foto: NOJ/Vina Yunda Safitri)
Ra Karror, cicit Syaikhona Kholil Bangkalan, saat hadir di acara megengan di maqbarah KH Abdul Bashar Setail, Banyuwangi. (Foto: NOJ/Vina Yunda Safitri)

Banyuwangi, NU Online Jatim

Megengan Sarkub yang digelar pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Banyuwangi di maqbarah KH Abdul Bashar di Dusun Jalen, Desa Setail, Kecamatan Genteng, Kabupaten Banyuwangi, Jumat (01/04/2022), dihadiri KHR Karror Abdullah Schal atau Ra Karror, cicit dari Syaikhona Kholil Bangkalan.


Di acara tersebut, diungkapkan bahwa Syaikhona Kholil pernah belajar sebagai santri kepada Kiai Bashar. "Kita tahu, Syaikhona Kholil ada di pondok ini selama empat tahun sebelum thalabul ilmi ke Makkah," kata KH Moh Ali Makki Zaini, Ketua PCNU Banyuwangi.


Gus Makki, sapaan akrabnya, juga menceritakan tentang ketawadhuan Syaikhona Kholil selama mondok di Kiai Bashar, salah satunya yakni dengan tidak pernah membuang hajat di area sekitar pondok.


Ra Karror menceritakan bahwa Syaikhona Kholil adalah sosok yang gigih dalam menuntut ilmu. Buktinya, berangkat ke Banyuwangi untuk belajar ke Kiai Bashar, Syaikhona Kholil berjalan kaki.


"Perjalanan saya dari Bangkalan ke Banyuwangi ditempuh dalam waktu lima jam dengan kereta api eksekutif, dilarang merokok saja sudah gelisah. Bagaimana dengan Syaikhona yang harus berjalan kaki dengan jarak yang demikian," cerita Ra Karror.


Dia mengatakan, Kiai Bashar memiliki peran penting dalam membentuk kepribadian dan keilmuan Syaikhona Kholil. "Beliau tidak hanya belajar ilmu di sini, tapi juga cara kasab, cara bekerja mendapatkan rezeki, bahkan Kiai Bashar memberikan upah dari hasil setiap hari memanjat pohon kelapa," jelas Ra Karror.


Dari upah itulah Syaikhona Kholil bisa menabung dan atas perintah Kiai Bashar dia berangkat ke Makkah untuk mendalami ilmu agama.


"Ketika muncul Shalawat Ilmi, ketika muncul kitab-kitab karangan beliau, ketika muncul jam'iyah Nahdlatul Ulama, ketika muncul kata Syaikhona menjadi julukan untuk Kiai Kholil, semua tidak lepas dari Kiai Abdul bashar," tandas Ra Karror.


Dengan demikian, kata dia, megengan kali ini bukan hanya melestarikan tradisi setiap menjelang Ramadhan, tapi juga mengenang kembali perjuangan para muassis NU. Di acara tersebut juga dilakukan pemberian ijazah Shalawat Ilmi karya Syaikhona Kholil yang dibacakan oleh Lora Dimyati bin KH Muhammad, juga cicit Syaikhona Kholil Bangkalan.


Tokoh Terbaru