Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Keislaman Tokoh Khutbah Opini Nusiana Rehat Jujugan Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka

Kader Ansor di Sumenep Ngaji Keutamaan Jabat Tangan, Ternyata Penuh Makna

Kader Ansor di Sumenep Ngaji Keutamaan Jabat Tangan, Ternyata Penuh Makna
Kegiatan rutinan Majelis Dzikir dan Shalawat Rijalul Ansor (MDSRA) Pimpinan Anak Cabang (PAC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor kecamatan Bluto, Senin (21/9) malam. (Foto : NOJ/ A Habiburrahman).
Kegiatan rutinan Majelis Dzikir dan Shalawat Rijalul Ansor (MDSRA) Pimpinan Anak Cabang (PAC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor kecamatan Bluto, Senin (21/9) malam. (Foto : NOJ/ A Habiburrahman).

Sumenep, NU Online Jatim

Di kalangan Nahdliyin, tradisi atau budaya jabat tangan sudah menjadi hal yang mesti dilakukan  ketika berjumpa dengan sejawat. Sebab, pada dasarnya jabat tangan tersebut memiliki keistimewaan dan keutamaan saat prosesi jabat tangan itu dilakukan. Namun, seiring dengan adanya pandemi, hal tersebut menjadi jarang dilakukan.

 

Beberapa hal terkait keistimewaan dan keutamaan dalam berjabat tangan ini disampaikan oleh Kiai Mohammad Ali Wardi dalam kegiatan rutinan Majelis Dzikir dan Shalawat Rijalul Ansor (MDSRA) Pimpinan Anak Cabang (PAC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor kecamatan Bluto, Senin (21/9) malam, yang ditempatkan di kediaman Suhaidi Alu, Dusun Sasar, Kapedi, Bluto, Sumenep.

 

Ketua PAC MDS Rijalul Ansor Bluto masa khidmat 2017-2019 ini menyampaikan, ia memperoleh ijazah dari gurunya, yakni KHR. Moh. Kholil As'ad Syamsul Arifin, untuk menyampaikan beberapa hal terkait keistimewaan dan keutamaan jabat tangan dimaksud diatas.

 

Dikatakan bahwa ketika seseorang melakukan jabat tangan dengan sejawat mayoritas hanya berjabat tangan secara lahiriyah saja, tanpa menyentuh pada aspek batiniyah. Padahal akan menjadi sangat luar biasa apabila dalam jabat tangan tersebut menyentuh pada ranah lahir dan batin.

 

"Sekilas ini memang sepele. Akan tetapi hal tersebut menjadi penting, mengingat banyak hal besar justru dimulai dari hal-hal kecil," ujarnya.

 

Kiai Ali Wardi menambahkan, ketika seseorang berjabat tangan dengan orang lain hendaknya mengharap ada sambungan sanad terkait jabat tangan tersebut dengan Nabi Muhammad SAW.

 

"Karena dari hal inilah jabat tangan kita tidak hanya sebatas gerak fisik atau aspek lahiriyah semata, tapi juga menyangkut aspek batiniyah," katanya.

 

Ketua Jam'iyah Shalawat Nariyah Wali Songo Sumenep ini pun mengatakan, hal tersebut bukanlah hal yang tidak berdasar. Hal ini senada dengan yang disabdakan Rasulullah SAW dalam suatu riwayat; "Bahwa seseorang yang berjabat tangan dengan orang lainnya, apabila diharapkan bersalaman dengan orang yang pernah bersalaman kepadaku, atau orang yang disalamin diharapkan pernah bersalaman kepadaku, maka hakikatnya ia juga bersalaman kepadaku". "Kira-kira begitu yang disabdakan oleh Rasulullah SAW," ujarnya.

 

Ia pun moncontohkan sama halnya dengan orang yang sedang minum air. Lumrahnya orang minum diniatkan hanya sebatas untuk menghilangkan dahaga, yang pada akhirnya air yang diminum kurang begitu berfungsi ketika masuk ke dalam tubuh. Padahal ketika kita minum, yang sebelumnya membaca atau dibacakan doa-doa atau bismillah, maka nanti akan menghasilkan energi-energi positif dari air tersebut.

 

"Jadi, air yang kita minum yang didahului dengan membaca atau dibacakan doa atau bismillah tersebut ketika masuk ke tubuh kita, yang akan menjadi daging, darah, bahkan juga dapat mempengaruhi pikiran dan ucapan kita kepada hal-hal yang positif," pungkasnya.

 

Secara terpisah, Ahmad Habiburrahman menuturkan, rutinan MDS Rijalul Ansor PAC GP Ansor Bluto ini dilaksanakan sebulan sekali, pada pekan ketiga setiap malam Selasa.

 

"Sedangkan tempat berpindah-pindah ke rumah-rumah atau masjid yang berkenan untuk ditempati," ujarnya.

 

Ketua PAC MDS Rijalul Ansor Bluto ini menambahkan, dalam rutinan tersebut dilaksanakan banyak kegiatan keagamaan atau ubudiyah. Diantaranya adalah, pembacaan shalawat nariyah, pembacaan surat Yasin dan al-Mulk. Selain itu juga diisi dengan pembacaan shalawat Qiyam, dengan menghadirkan kelompok musik hadrah atau banjari di daerah setempat.

 

"Bahkan juga kadang diisi dengan kajian tentang keaswajaan, ke-NU-an, atau keAnsoran, dengan mendatangkan penyaji dari tingkat Pimpinan Cabang setempat, atau penyaji lainny," pungkasnya.

 

Editor : Romza

PWNU Jatim Harlah