Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Keislaman Tokoh Khutbah Opini Nusiana Rehat Jujugan Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka

KH Bisri Syansuri, Ulama Rujukan Ilmu Fiqih di Indonesia

KH Bisri Syansuri, Ulama Rujukan Ilmu Fiqih di Indonesia
KH Bisri Syansuri. (Foto: NOJ/noi)
KH Bisri Syansuri. (Foto: NOJ/noi)

Hari ini, Jumat (12/02/2021), Pondok Pesantren Mambaul Ma'arif, Denanyar, Jombang menggelar haul ke-42 KH Bisri Syansuri. Acara juga dalam rangka peringatan hari lahir pesantren setempat yang telah emmasuki usia 106 tahun. Karena masih dalam suasana pandemi Covid-19, haul tidak diselenggarakan seperti biasanya, yakni secara virtual. 

 

Puncak haul akan digelar malam ini dengan menghadirkan sejumlah tokoh yaitu Rais Aam yang juga Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Miftachul Akhyar. Juga Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur, KH Marzuki Mustamar.

 

Siapa sosok KH Bisri Syansuri atau Mbah Bisri? Berikut catatan kecil yang berhasil dihimpun redaksi.

 

KH Bisri Syansuri yang lahir pada tanggal 28 Dzulhijjah tahun 1304 H atau 18 September 1886 di Tayu, Pati adalah salah satu ulama yang ikut serta mendirikan Nahdlatul Ulama (NU) di kala itu. Kiai Bisri selalu menggunakan pendekatan fiqih murni untuk menyelesaikan berbagai masalah. Pemikiran ini seringkali tidak selaras dengan kiai pendiri NU yang lain, seperti KH Abdul Wahab Chasbullah, ahli ushul fiqih. Kendati demikian, keduanya adalah kader hebat hasil didikan Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari dan ulama terpilih lainnya.

 

Kecenderungan Kiai Bisri terhadap fiqih selalu terlihat di setiap sisi kehidupannya baik sebagai seorang ulama atau ketika memimpin NU. Buah pemikiran yang sudah mendarah daging tersebut didapatkan Kiai Bisri dari proses belajar yang tidak singkat.

 

Semasa kecil, Kiai Bisri belajar ilmu nahwu, saraf, fiqih, tasawuf, tafsir, dan hadis melalui seorang ahlul Qur’an dan ahli fiqih yaitu KH Abd Salam. KH Abd Salam dikenal sebagai seseorang yang disiplin dalam menjalankan perintah-perintah agama. Kebiasaan tersebut yang kemudian dibawa oleh Kiai Bisri sepanjang hidupnya.

 

Menginjak usia kira-kira 15 tahun, Kiai Bisri mulai melakukan pengembaraan mencari ilmu hingga ke luar tanah kelahirannya. Setiap Ramadlan, Kiai Bisri menimba ilmu kepada KH Kholil Kasingan Rembang dan KH Syua’ib Sarang Lasem. Keduanya merupakan ulama terkemuka saat itu.

 

Kiai Bisri melanjutkan belajarnya kepada Syaikhona Kholil Bangkalan. Di pesantren ini, Kiai Bisri bertemu dengan KH Abdul Wahab Chasbullah, seorang yang menjadi teman dekatnya yang di kemudian hari menjadi kakak iparnya.

 

Setelah itu, Kiai Bisri berguru kepada Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari di Tebuireng, Jombang. Selama enam tahun, Kiai Bisri menghabiskan waktu di pesantren tersebut hingga kemudian mendapatkan ijazah untuk mengajarkan kitab-kitab terkenal, seperti kitab fiqih Al-Zubad hingga ke kitab-kitab hadits seperti Bukhari dan Muslim.

 

Tidak berhenti di situ, tahun 1912 hingga 1913 Kiai Bisri bersama KH Abdul Wahab Chasbullah melanjutkan pendidikannya ke Mekkah Al Mukarromah. Di sana, mereka belajar kepada Syekh Muhammad Bakir Syekh Muhammad Said Yamani Syekh Ibrahim Madani, dan Syekh Al-Maliki. Serta melanjutkan khidmah kepada guru-guru KH Hasyim Asy’ari, yaitu KH Ahmad Khatib Padang dan Syekh Mahfudz Tremas.

 

Keluasan ilmu yang dimiliki Kiai Bisri pun disoroti oleh banyak kalangan. Menurut KH Abdurrahman Wahid, literatur keagamaan yang dikuasai oleh kakeknya itu cenderung sepihak karena lebih ditekankan pada literatur fiqih klasik. Namun, penguasaan materinya memiliki intensitas yang luar biasa sehingga secara keseluruhan membentuk sebuah pemikiran yang matang dalam kepribadiannya. Tidak heran jika Kiai Bisri menjadi rujukan dan pusat pendalaman ilmu-ilmu agama di Pulau Jawa khususnya Jawa Timur.

PWNU Jatim Harlah