• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Jumat, 19 Agustus 2022

Tapal Kuda

Kopri Pasuruan Gelar Kajian Online Menjadi Berani Versi Diri Kita Sendiri

Kopri Pasuruan Gelar Kajian Online Menjadi Berani Versi Diri Kita Sendiri
Flyer kajian online 'Menjadi Berani Versi Diri Kita Sendiri' oleh PC Kopri Pasuruan. (Foto: NOJ/ Istimewa)
Flyer kajian online 'Menjadi Berani Versi Diri Kita Sendiri' oleh PC Kopri Pasuruan. (Foto: NOJ/ Istimewa)

Pasuruan, NU Online Jatim
Pengurus Cabang (PC) Korp Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Putri (Kopri) Pasuruan menggelar kajian online dengan tema "Menjadi Berani Versi Diri Kita Sendiri" via google meeting pada Selasa (28/06/2022).


Wakil Sekretaris Bidang Kaderisasi PC Kopri Pasuruan, Fatimatuz Zahro menjelaskan, bahwa perempuan sering dihadapkan pada standar-standar yang berkembang di masyarakat.


“Seperti bentuk tubuh, penampilan, maupun kemampuan untuk berkembang. Sehingga, banyak perempuan merasa kurang percaya diri, mudah cemas, membandingkan diri dengan orang lain, dan kesulitan untuk menerima diri apa adanya,” ujarnya.


Untuk itu, kajian kali ini mencoba mengenali stigma-stigma pada perempuan. Serta, mendiskusikan betapa pentingnya mengenali diri sendiri dan memahami pentingnya seorang perempuan untuk berani membicarakan hak-haknya serta mendobrak stigma tersebut.


Sementara itu, Mahasiswa Magister Kajian Gender Universitas Indonesia Wanda Roxanne Ratu Pricillia, mengajak para peserta untuk berbagi pengalaman stigma yang pernah dialami. Menurutnya, baik perempuan maupun laki-laki pernah mengalami stigmatisasi.


“Seperti stigma laki-laki tidak boleh menangis, perempuan lajang itu perempuan pilih-pilih, laki-laki dominan thinking perempuan dominan feeling, dan lain sebagainya,” ujarnya saat menjadi pembicara kajian.


Dirinya juga menjelaskan, terdapat stigma itu terbagi dalam tiga jenis. Pertama, stigma pada tubuh. Yakni kebencian pada kelainan tubuh orang, seperti difabel, bertato, berdandan, pakaian tertentu, dan lain-lain.


Kedua, stigma karakter individu. Yakni pelabelan pada orang-orang, seperti orang yang memiliki gangguan mental, orang berbahaya, pengangguran, tidak jujur, agresif, pemalas, miskin, dan lain-lain.


“Dan ketiga ialah stigma tribal. Yakni, jenis stigma yang berdasarkan ras, bangsa, dan agama,” jelas penulis buku “Menjadi Perempuan Lajang Bukan Masalah” itu.


Disebutkan, untuk keluar dari stigma tersebut perlu mengenali diri sendiri. Hal tersebut sebagai pondasi memahami hak-hak sebagai manusia, serta mengerti standar hidup diri sendiri.


“Memahami diri sendiri itu perlu mengetahui self-esteem, pengalaman yang hangat dalam diri, menilai diri apa adanya dan tanpa bersaing dengan orang lain,” pungkasnya.


Penulis: Nur Rizky Amania


Tapal Kuda Terbaru