Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Keislaman Tokoh Khutbah Opini Nusiana Rehat Jujugan Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka

Masdar Hilmy: Dari Cak Menjadi Prof; Sekadar Catatan Ngobrol

Masdar Hilmy: Dari Cak Menjadi Prof; Sekadar Catatan Ngobrol
Rijal Mumazziq Z (kiri) bersama Masdar Hilmy di ruang Rektorat UINSA. (Foto: NOJ/Ist)
Rijal Mumazziq Z (kiri) bersama Masdar Hilmy di ruang Rektorat UINSA. (Foto: NOJ/Ist)

Cak Masdar, demikian waktu itu kami menyapa beliau. Gayanya memang santai, tidak jaim, dan kalau memanggil para juniornya tetap dengan sapaan 'Mas', 'Kang', bukan 'Dik', juga tidak pernah memanggil nama junior secara langsung. Mungkin ini karakter menonjol dari Cak Masdar. Dulu dan sekarang. Tidak berubah.

 

Yang berubah dari saya dan teman-teman di Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya (UINSA), khususnya yang bergabung di Komunitas Baca Rakyat (Kobar), hanyalah sapaan kepada beliau. Dari Cak, menuju Pak, lalu Prof. Maklum, selain sudah mencapai gelar tertinggi di bidang akademik, rasanya segan memanggil Rektor UINSA dengan sapaan Cak.

 

Sejak datang dari studinya di Aussie, 2007, hingga saat ini ada dua kegemaran yang melekat pada dirinya. Nulis dan ngopi. Sejak mahasiswa, maupun ketika lanjut di McGill, Kanada; lanjut program doktor di Melbourne, tulisan Pak Masdar sering nongol di media massa dan jurnal.

 

Sebagai dosen muda, waktu itu produktivitasnya sebagai perajin artikel memang di atas rata-rata. Pria kelahiran Tegal ini lebih sering merajut ide di kolom media massa, khususnya Kompas, Jawa Pos, Media Indonesia, Surya, Duta Masyarakat, Tempo, Gatra, dan lain-lain. Sebagian disusun kembali menjadi bunga rampai, sebagian lagi dikembangkan dalam susunan ide utuh yang diterbitkan menjadi buku, baik diterbitkan di Indonesia, maupun di Singapura.

 

Ciri artikel Pak Masdar menurut saya, ada pada efektifitas penggunaan kalimat. Tidak bertele-tele. Tidak banyak basa-basi. Satu alinea pembuka, dilanjut paparan data, disambung analisis, diperkuat teori, tawaran solusi, dan biasanya disisipi referensi mutakhir berbahasa Inggris. Rapi dan sitematis. Seenak membaca karya-karya Prof Kuntowijoyo, saya kira.

 

Saya ingin berguru soal tulis menulis, sistematika berpikir, dan cara berargumentasi seperti gaya Pak Masdar di atas, tapi sulit. Itu memang gaya orisinil Pak Masdar, yang genuine dan Ashli--pakai shod--dalam istilah santri. Hasil dari proses membaca dan menulis selama bertahun-tahun.

 

Selain menulis, ngopi adalah kegemaran lainnya. Titik beratnya pada diskusi sambil ngopi atau sebaliknya. Tidak heran jika Jawa Pos pernah menurunkan feature liputan soal kesukaannya ini: bukan sekadar penikmat, tapi juga menguasai teknik racik-seduh, hingga pengenalan biji kopi pilihan dari berbagai daerah di Nusantara.

 

"Citarasa kopi di Indonesia ini beragam. Setiap daerah punya biji kopi yang tumbuh mengakar di tanahnya dan menghasilkan aroma dan rasa yang khas. Toraja berbeda dengan Gayo. Arabika Kintamani berbeda rasanya dengan Java-Ijen-Raung. Robusta Temanggung tekstur rasanya malah unik, semacam ada rasa tambakaunya. Pahitnya lebih menggigit." kata Prof Masdar suatu ketika, ketika saya dan teman-teman menemani beliau ngopi di kantin kampus UINSA, beberapa tahun silam.

 

"Citarasa khas ini juga bisa diamsalkan pada karakter pemikir di Indonesia ini. Ulama Minangkabau berbeda gayanya dengan ulama Jawa, Madura, Nusa Tenggara, dan Banjar. Landasannya sama: Syafi'iyah. Tarekatnya bisa jadi juga sama. Tapi caranya berdialektika dengan masyarakat berbeda satu sama lain. Demikian juga pada artikulasi pemikiran dalam bentuk karya. Ya kayak kopi itu tadi. Dan, tentu saja ini kekayaan kita. Ya nggak?"

 

Asyik sekali melihat Prof Masdar membuat tamsil sederhana di atas.

 

"Ulama kita ini keren-keren lho, mas. Kayak Kiai Soleh Darat. Kemampuannya di bidang bahasa Arab, tasawuf dan tafsir, tidak membuatnya melangit. Beliau membumi. Karya-karyanya sebagian besar berbahasa Jawa. Meminjam istilah Antonio Gramsci, beliau itu intelektual organik yang selalu gelisah, lantas berbuat untuk mencerahkan masyarakat di sekitarnya. Mendampingi mereka berproses."

 

Saya manggut-manggut. Mengiyakan. Menunggu kalimat berikutnya.

 

"Ada juga Syekh Nawawi al-Bantani. Dari Banten, lalu ke Haramain, berkarya dengan bahasa Arab agar kitab-kitab nya bisa diterima dunia internasional. Ini belum menelisik ijtihad ruhani dari Syekh Khatib Sambas, bagaimana beliau merajut dua tarekat, Qadiriyah dan Naqsyabandiyah menjadi satu, dan bertahan hingga sekarang."

 

Oke. Saya masih menyimak uraiannya, dalam diskusi enteng-entengan sambil ngopi beberapa tahun silam, yang kebetulan saya rekam di benak saya. Dan dalam pertemuan di ruang Rektor UINSA, beberapa saat yang lalu, diskusi soal khazanah Islam di Indonesia kembali menyeruak.

 

"Bapak saya alumni Pondok Bareng, Kudus. Ada salah satu tirakat yang dijalani bapak saya sampai akhir hayatnya. Yaitu Poso Dalail. Alias mengamalkan Dalail Khairat disertai dengan puasa. Hal ini saya kira merupakan tradisi asli di sebagian kalangan masyarakat santri. Dalail-nya memang disusun oleh Syekh Muhammad bin Sulaiman Jazuli, Maroko, tapi keampuhannya ditunjang dengan puasa sunnah. Nah yang terakhir ini saya duga merupakan ijtihad-ruhaniah kalangan ulama kita. Sanad Amaliah ini, antara lain melalui jalur Kiai Basyir, Jekulo, Kudus."

 

Asyik sekali mendengar Pak Masdar menguraikan kekayaan tradisi ulama Indonesia, sebagaimana lazimnya Pak Masdar mengupas demokrasi, teori pendidikan, maupun teologi perlawanan, yang selama ini menjadi titik tumpu pemikirannya.

 

Alumni Pesantren Al-Hidayat, Lasem ini, lantas melanjutkan, "Di banyak jurnal internasional, kekayaan khazanah pemikiran ulama kita belum banyak yang mempromosikan lho. Soal tradisi ilmu hikmah yang ada di pesantren, misalnya, atau tradisi syair Jawa yang disenandungkan di antara adzan dan iqamah, juga pada folklore yang berkaitan dengan nama-nama makam keramat yang ada nama Maghribi atau Maghrobi. Ini membuktikan adanya kesinambungan jejaring intelektual dan spritualitas antara Nusantara dengan kawasan Maghribi.

 

Belum lagi pada aspek pembacaan Hizib yang menjadi tradisi para ulama kita, juga ukiran-ukiran di batu nisan kuno yang orisinil dan punya cirikhas antara satu kawasan dengan daerah lain, antara satu periodesasi dengan era lain. Ini peradaban Islam Indonesia yang perlu ditelaah lebih mendalam. Saya kira, ini menjadi tugas njenengan dan para pegiat tradisi ziarah wali agar menuliskannya secara serius di jurnal internasional. Ayo, segera ditulis ya! Saya tunggu."

 

Kali ini saya yang melongo. Dijejali ide yang sebelumnya unthinkable, namun memang sudah saatnya ditulis secara serius.

 

Ada beberapa topik obrolan yang asyik tapi berbobot dengan Pak Masdar. Kapan-kapan saya ulas lagi, insyaallah.

 

Yang pasti, saya dapat wawasan baru, dan oleh-oleh buku karyanya, ‘Spiritualitas Haji: Prosesi, Refleksi dan Serba-serbi’ terbitan UINSA Press, 2019. Buku yang pernah saya beli dan rampung baca, namun kini diberi lagi. Buku ini melengkapi berbagai testimoni para haji Indonesia yang dituangkan dalam buku. Dari ‘Orang Jawa Naik Haji’-nya Danarto, ‘Mendadak Haji’-nya Prie GS., ‘Unforgettable Hajj: Pengalaman Ringan, Dilupakan Jangan’ karya Arbain Nur Bawono, ‘Haji Backpaker’ tulisan Aguk Irawan, dan sebagainya.

 

Yang unik, saya baru tahu dari buku ‘Spiritualitas Haji’ (hlm. 22) jika nama Masdar Hilmy ini merupakan tabarrukan dan tafaulan dari nama Masdar Helmy, profesor IAIN Walisongo Semarang, yang pernah menjabat sebagai Kakanwil Depag Provinsi Lampung. KH Usman Rifai, ayah Pak Masdar, mengagumi sosok tersebut, lantas ketika si jabang bayi lahir, disematkanlah nama Masdar Hilmy pada orok yang lahir pada 2 Maret 1971.

 

Dan, kedua Masdar Hilmy ini sama sama menjadi profesor. Doa yang dikabulkan oleh Allah.

 

Terima kasih Cak, eh Pak, eh Prof Masdar atas diskusinya dan hadiah bukunya. Sehat selalu dan jangan bosan berkarya.

 

Rijal Mumazziq Z adalah Rektor Institut Agama Islam Al-Falah As-Sunniyyah (Inaifas) Kencong, Jember dan mahasiswa program doktor UINSA. 

PWNU Jatim Harlah