Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Keislaman Tokoh Khutbah Opini Nusiana Rehat Jujugan Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka

Memahami Rahasia Kecerdasan Santri

Memahami Rahasia Kecerdasan Santri
Kegiatan bahtsul masail di pesantren. (Foto: NOJ/PPw)
Kegiatan bahtsul masail di pesantren. (Foto: NOJ/PPw)

Ketika pertama kali masuk pesantren, saya terpesona dengan kecerdasan santri senior. Kepandaian mereka membaca kitab kuning dan mampu menerangkan berbagai kandungan makna yang ada di dalamnya, padahal kitab itu tidak ada harakat atau maknanya, tetapi bisa dibaca dengan mudah. Tidak hanya itu, saya juga terpukau ketika para santri memiliki keahlian di bidang masing-masing, ada yang mahir berpidato, menabuh rebana, menulis kaligrafi, melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an, dan berbagai kesenian lain.

 

Yang membuat saya lebih kagum adalah ketika melihat mereka dalam bahsul masail. Para santri mampu menjawab berbagai persoalan rumit dengan dalil-dalil yang dikutip dari berbagai referensi kitab kuning tang tebal dan berjilid-jilid. Dalam hati saya berkata, “bagaimana bisa mereka menemukan jawaban dari kitab setebal itu dan bahkan kitabnya lebih dari tiga jilid.”

 

Saya juga berpikir bahwa para santri ini memang didesain untuk menjadi orang-orang yang cerdas. Tapi pertanyaannya bagaimana caranya? Bagaimana prosesnya? Dan bagaimana strateginya?

 

Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, mari kita melihat perkembangan pendidikan saat ini, khususnya pendidikan yang ada di luar pesantren. Beberapa tahun terakhir ini pendidikan kita nampak memberikan penekanan pada pendekatan pembelajaran yang berorientasi pada keterampilan berpikir tingkat tinggi atau Higher Order Thinking Skills (HOTS).

 

Konsep pembelajaran ini mengacu pada taksonomi bloom yang membagi tingkatan pembelajaran menjadi enam level, mulai dari menghafal, memahami, mempraktikkan, menganalisa, mengevaluasi, dan mencipta. Ketiga tingkatan pertama masuk dalam kategori kemapuan beripikir tingkat rendah atau Low Order Thinking Skills (LOTS), sedangakan ketiga tingkatan terakhir masuk kategori keterampilan berpikir tingkat tinggi atau Higher Order Thinking Skills (HOTS).

 

Lantas apa hubungannya dengan kecerdasan santri?

 

Yang ingin saya utarakan di sini adalah bahwa sesungguhnya pesantren telah menggunakan pendekatan HOTS dalam pembelajarannya. Jadi tidak heran jika santri itu tumbuh menjadi orang-orang cerdas. Untuk lebih jelasnya, saya akan memberikan beberapa alasan dan contoh tentang berbagai pendekatan pembelajaran HOTS ala santri. Dan penjelasan ini juga akan menjawab pertanyaan di atas.

 

Sejatinya, pesantren memiliki metode pembelajaran yang beragam dan komplet. Walaupun di pesantren tidak ada penjelasan seperti taksonomi bloom yang membagi pendekatan pembelajaran menjadi LOTS dan HOTS, tetapi semua pendekatan itu diterapkan.

 

Ingatan saya masih kuat, ketika pertama kali masuk pesantren di kelas-kelas awal harus banyak menghafalkan pelajaran seperti sharaf, nahwu, ayat-ayat pilihan dalam Al-Quran, hadits, bahkan saya sendiri pernah menghafalkan kaidah dalam ilmu waris.

 

Selain hafalan, para santri juga dituntut untuk memahami dan mengaplikasikan. Contoh paling mudah adalah pada pelajaran fiqih, santri tidak hanya dituntut menghafal sekian bacaan dalam shalat tetapi juga mampu mempraktikkan dan memahami hal-hal yang berkaitan dengan sah atau yang membatalkannya.

 

Bahkan dulu saya waktu di Pesantren Tremas Pacitan, ada lomba khusus yang berkaitan dengan ibadah. Yang menarik bagi saya bukanlah lombanya, tapi persiapan untuk lomba tersebut. Kami satu asrama belajar bersama dengan sangat intens selama hampir satu bulan untuk memahami dan mempraktikkan semua jenis ibadah, mulai dari thaharah sampai praktik akad nikah dan tajhizul mayyit.

 

Dalam persiapan itu kita tidak hanya melatih pemahaman dan praktik, tetapi juga analisa masalah-masalah sulit yang kemungkinan akan di tanyakan dewan juri, seperti bagaimana cara berkhutbah bagi khatib yang hanya hafal surah al-Fatihah? Atau shalat apa yang tahiyatnya sampai empat kali? Atau bagaimana niat menshalati potongan tubuh mayit yang baru ditemukan, dan masih banyak lagi pertanyaan sulit lain.

 

Dari persiapan lomba para santri mendapatkan proses pembelajaran dengan berbagai macam pendekatan, mulai dari menghafal, memahami, mempraktikkan sampai pada analisa kasus-kasus tertentu. Pada kegiatan pembelajaran yang lain, santri juga dilatih kemampuan analisa dan evaluasi bahkan mencipta.

 

Sebagai contoh sederhana, setiap santri pasti pernah mempelajari pelajaran seperti nahwu dan sharaf. Dari dua pelajaran ini santri sudah diajari untuk menggunakan nalar tingkat tinggi dengan melakukan analisis struktur bahasa melalui i’rab dan i’lal. Dalam materi ushul fiqih, ilmu hadits, balaghah, mantiq, juga merupakan pelajaran yang banyak menggunakan analisa mendalam.

 

Tidak hanya dalam hal materi dalam metode pembelajaran, santri juga mendapatkan beragam metode yang juga mengasah kemampuan berpikir. Salah satu contoh yang saya alami sendiri adalah syawir atau musyawarah. Kegiatan ini adalah diskusi antar kelompok, dalam setiap pertemuan satu kelompok diberikan kesempatan untuk menjelaskan dan membedah satu tema dalam kitab kuning baik dari segi bahasa (nahwu dan sharaf), ataupun fiqih dan ushul fiqih. Sedangkan kelompok yang lain diberikan kesempatan sebanyak-banyaknya untuk bertanya kepada kelompok yang bertugas.

 

Dalam metode belajar seperti ini, santri dituntut untuk lihai dalam mempresentasikan materi yang dikaji. Selain itu santri juga harus siap menerima berbagai macam pertanyaan baik dari segi analisis struktur bahasa, atau analisis hukum dari fiqih dan ushul fiqih yang semua itu membutuhkan penalaran tingkat tinggi atau HOTS.

 

Satu metode pembelajaran yang lebih tinggi lagi dalam penggunaan nalar adalah bahsul masail. Melalui ini, santri dituntut menemukan jawaban atas permasalahan hukum yang berkembang. Dalam melakukan bahsul masail santri akan mengerahkan kemampuan bahasa Arab dalam membaca literatur kitab kuning. Kemampuan itu harus dipadukan dengan penguasaan pada bidan fiqih, ushul fiqih, hadis, tafsir, dan berbagai aspek keilmuan lain. Kegiatan bahsul masail tersebut jelas mengembangkan kemampuan logika dan nalar tingkat tinggi.

 

Yang perlu kita pahami bersama adalah pesantren tidak hanya berhenti dalam proses pembentukan daya intelektual, tetapi juga pembentukan karakter. Bahkan yang kedua ini yang menjadi konsentrasi pendidikan di pesantren. Dalam pembentukan karakter santri akan dilatih untuk memiliki kepekaan sosial dan ketahanan spiritual.

 

Untuk melatih kepekaan sosial, santri diajak terjun langsung ke masyarakat. Bentuk pengabdian masyarakat itu sangat beragam, ada pesantren yang mewajibkan santrinya secara individu untuk mengabdi di masyarakat sebelum dinyatakan lulus, ada yang menggunakan pendekatan kelompok atau organisasi. Tetapi tujuan utamanya adalah santri akan merasakan secara langsung masalah-masalah yang dihadapi oleh masyarakat dan secara tidak langsung hal itu akan mengasah rasa empati dan kepekaan sosial para santri.

 

Dalam hal penguatan aspek spiritual, pesantren adalah pusatnya, kita tidak perlu membahasnya secara mendalam, karena setiap kegiatan di pesantren selalu mencerminkan aspek spiritual. Mulai dari ritual ibadah sehari-hari, sampai tradisi dan kebiasaan hidup sehari-hari yang mencerminkan nilai-nilai spiritual.

 

Jadi, santri adalah sosok yang tidak hanya memiliki bekal keilmuan yang dalam, tetapi juga memiliki rasa kepedulian dan kepekaan sosial yang tinggi dan ketahanan spiritual yang kokoh. Proses kehidupan santri di pesantren dengan semua aktivitas pembelajaran dan kegiatan lainnya memang didesain untuk menciptakan manusia yang cerdas, humanis, dan religius.

 

Ustadz Mustaufikin adalah Alumnus Pascasarjana Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya.

 

 

PWNU Jatim Harlah