Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Keislaman Tokoh Khutbah Opini Nusiana Rehat Jujugan Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka

Menyoal Peran Negara untuk Perlindungan Ulama

Menyoal Peran Negara untuk Perlindungan Ulama
Ulama dan umara harus bersatu agar negara semakin kuat dan maju. (Foto: NOJ/Anam)
Ulama dan umara harus bersatu agar negara semakin kuat dan maju. (Foto: NOJ/Anam)

Oleh: Mochammad Qusyairi*

 

Kasus penusukan terhadap Syekh Ali Jaber di Masjid Afaludin Tamin Sukajawa, Tanjungkarang Barat, Bandar Lampung pada 13 September 2020 amat mengernyitkan dahi. Proses kejadian itu tidak membutuhkan waktu lama, hanya dalam hitungan detik. Sehingga muncul asumsi dari sebagian kelompok bahwa kejadian tersebut direncanakan dan bersifat sistemastis. Sebagai bagian dari umat beragama, selayaknya berharap kejadian serupa tidak boleh menimpa ulama di lain masa.

 

Ulama yang datang dengan sorbannya, jubahnya, sarungnya dan segudang ilmu pengetahuannya seolah dianggap remeh-temeh, tak lagi dimuliakan, disanjung dan dihormat. Bukankah ulama sebagai penerus nabi sudah matang dengan konsepsi keislamannya yang matang dan bagus. Namun, nyatanya sebagian ulama masih mendapat perlakuan kurang baik beberapa waktu terakhir.

 

Mestinya, ulama yang diyakini sebagai orang yang faham dan mengerti banyak ilmu keagamaan harus dihormat dan takdim, bukan sebaliknya. Sungguh mengejutkan dan naif sekali peristiwa yang menimpa beberapa ulama di republik ini. Dimadura misalnya, ulama diyakini sebagai orang yang doanya tersohor, dimaqbul dan keramat. Sehingga masyarakat masih patuh dan tunduk terhadap dawuh para ulama sepanjang tidak bertentangan dengan syariat islam yang diyakininya.

 

Historikal Peran Ulama

Jauh sebelum kemerdekaan, ulama sudah punya andil signifikan dalam perjuangan. Hal itu, misalnya, Syekh Abd al-Shamad al-Palimbani, asal Palembang yang menetap di Mekkah, mendorong kaum muslim nusantara untuk jihad melawan penjajah, salah satunya jihat dalam perang aceh melawan koloni Belanda yang ganas ingin menguasai Indonesia. Namun, pada akhirnya Belanda gulung tikar sebab tidak mampu melawan doa dan perjuangan ulama secara utuh.

 

Tak hanya itu, bergeser menjelang hari kemerdekaan, kontribusi ulama juga tidak kecil. Saat para tokoh bangsa mengikrarkan perjuangan pergerakan dan kebangkitan Indonesia, sebut saja Hos Cokroaminoto, Soetomo, Soekarno, Douwes Dekker, Cipto Mangunkusumo, Ki Hajar Dewantoro, hingga pahlawan lain, Kiai Wahab Chasbullah sudah mulai merintis madrasah yang ada unsur makna tanah air (wathan). Seperti Nahdlatul Wathan (kebangkitan tanah air). Bahkan, Kiai Wahab juga membuat lagu cinta tanah air yang sekarang disebut dengan Ya Lal Wathan.

 

Sehari setelah kemerdekaan juga terdapat peran krusial ulama, yakni terkait dengan Piagam Jakarta. Muncul ulama seperti KH Wahid Hasyim, Ki Bagus Hadikusumo, dan lain-lain yang legawa dihapusnya tujuh kata pada sila pertama. Selanjutnya, Resolusi Jihad dengan komando KH Hasyim Asy’ari adalah fatwa ulama atas kewajiban mengangkat senjata bagi umat islam untuk melawan penjajah yang mau bercokol lagi di bumi pertiwi. Berkat resolusi tersebut, seluruh rakyat dan tentara bersemangat bertempur di Surabaya yang dikenal dengan peristiwa 10 November.

 

Rentetan sejarah yang didalamnya terdapat perjuangan dan keikhlasan para ulama terdahulu merupakan catatan sejarah yang wajib diketahui oleh semua golongan agar tidak dikatakan sebagai millenial yang buta sejarah. Sebagai ulasan masa lalu maka penting nilai-nilai sejarah berdirinya bangsa ini wajib ditanamkan pada generasi bangsa, selanjutnya bahwa ulama adalah aktor utama demi terwujudnya kemerdekaan republik ini.

 

Dimana Peran Negara?

Tentu masih banyak ulama-ulama yang berjuang tanpa pamrih, maka dengan jejak historikal demikian ulama mempunyai andil besar dalam menegakkan NKRI dan menggerakkan rakyat untuk berjuang. Dengan demikian, negara perlu hadir dalam melindungi ulama. Karena, tidak sedikit kejadian-kejadian ulama yang mendapat perlakuan tidak mengenakkan.

 

Pada akhirnya, peristiwa yang menimpa Syekh Ali Jaber seakan jadi pengingat publik bahwa posisi ulama rentan dan penting untuk dilindungi negara. Sejatinya, jika tertelesik insiden atau peristiwa penusukan terhadap Syekh Ali Jaber tersebut, mengingatkan semua pihak soal pentingnya peran negara dalam memberikan regulasi perlindungan terhadap para ulama di negeri ini. Oleh sebab itu, elemen masyarakat dan negara wajib bersama-sama dalam melawan tindakan kekerasan terhadap ulama.

 

*Kader Muda NU

Editor : Romza

PWNU Jatim Harlah