Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Keislaman Tokoh Khutbah Opini Nusiana Rehat Jujugan Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Imsakiyah

Pengurus Ranting NU di Sumenep Ini Raih Gelar Doktor

Pengurus Ranting NU di Sumenep Ini Raih Gelar Doktor
Mahmudi anggota Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama (PRNU) Daleman, Kecamatan Ganding, Kabupaten Sumenep yang meraih gelar doktor. (Foto: NOJ/ Firdausi).
Mahmudi anggota Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama (PRNU) Daleman, Kecamatan Ganding, Kabupaten Sumenep yang meraih gelar doktor. (Foto: NOJ/ Firdausi).

Sumenep, NU Online Jatim

Seorang filsuf mengatakan bahwa semua ilmu merupakan satu kesatuan yang utuh yang mampu merubah wajah dunia. Seperti halnya Al-Ghazali yang meramu beragam ilmu pengetahuan menjadi satu kesatuan. Kesatuan ilmu hakikatnya sudah tertuang dalam mahakaryanya, contohnya kitab Ihya Ulumuddin yang bermanfaat bagi seluruh umat manusia.

 

Berangkat dari kerangka berfikir tersebut, Mahmudi selaku anggota Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama (PRNU) Daleman, Kecamatan Ganding, Kabupaten Sumenep meniru kiprah Al-Ghazali. Ia mempresentasikan Disertasinya yang berjudul "Paradigma Kesatuan Ilmu Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo dalam Perspektif Scienta Sacra H.S. Nasr", Selasa (08/12/2020).

 

Wakil Dekan Fakultas Ushuluddin Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (Instika) Guluk-Guluk tersebut mengatakan, gelar doktor diraihnya setelah sukses mempertahankan hasil penelitiannya di hadapan para penguji saat ujian terbuka promosi Doktor Pascasarjana UIN Walisongo Semarang.

 

Alumni Pascasarjana Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Ampel Surabaya (kini UIN Sunan Ampel) tersebut mengutarakan, ujiannya dilaksanakan secara online melalui aplikasi zoom. Hal ini dikarenakan Covid-19 masih mengalami peningkatan di kawasan tersebut.

 

"Alhamdulillah, walaupun dilakukan secara virtual, ujian kami berjalan lancar," tuturnya kepada NU Online Jatim, Rabu (09/12/2020) di kediamannya.

 

Menurutnya, ia melakukan penelitian ini untuk mengetahui secara dalam tentang model integral ilmu dan agama di tempat belajarnya. "Alhamdulillah, perjuangan ini telah kami bayar setelah kami menyelesaikan perkuliahan kurang lebih 6 tahunan," ujarnya dengan rasa syukur.

 

Alumni Madrasah Aliyah (MA) 1 Annuqayah Guluk-Guluk tersebut mengakui bahwa perkuliahannya tidak tepat waktu atau telat. Namun, kebangkitan ini didapat saat mengingat pesan kedua orang tuanya yang sudah wafat.

 

"Kami menyelesaikan tugas akhir ini, karena teringat pada pesan kedua orang tua kami yang sudah mendahului setelah meraih gelar ini," ungkapnya dengan wajah menunduk.

 

Selain itu, ia mendapat dukungan dari sang istri, guru, para kolega, dan promotor yang terus mendorong agar cepat diselesaikan tanpa mengulur waktu. "Berkat doa para guru terutama barakah para muassis NU, kami tidak mungkin menyelesaikan tugas berat ini," terangnya sambil mengelus dada.

 

 

Di kesempatan yang berbeda, KH Ah Syamli Muqsid menjelaskan bahwa Mahmudi mulai kuliah S-3 pada tahun 2014. Saat itu mendapat beasiswa dari Kementerian Agama, yaitu program 5.000 Doktor.

 

Rektor Instika Guluk-Guluk tersebut menegaskan bahwa meskipun terlambat, seluruh civitas akademika bangga. Karena berhasil mempertahankan disertasinya, hingga meraih gelar Doktor ke-143 di UIN Walisongo Semarang. Sementara di tempat pengabdiannya, yaitu Instika, ia tercatat sebagai Doktor yang ke-14.

 

"Selamat dan sukses kepada Mahmudi yang meraih gelar Doktor di bidang Filsafat Islam," pungkas Dewan Masyaikh Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-Guluk.

 

Editor: Romza

Iklan promosi NU Online Jatim