Home Metropolis Warta Pendidikan Malang Raya Pemerintahan Madura Parlemen Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Mitra Pustaka

Ketua ISNU Jember: Maulid Bukan Memperingati Manusia Biasa

Ketua ISNU Jember:  Maulid Bukan Memperingati Manusia Biasa
Maulid memperingati kelahiran manusia istimewa, Muhammad SAW. (Foto: NOJ/JKn)
Maulid memperingati kelahiran manusia istimewa, Muhammad SAW. (Foto: NOJ/JKn)

Jember, NU Online Jatim 
Diakui atau tidak, kecintaan generasi muda terhadap Nabi Muhammad SAW, mulai bergeser. Salah satu buktinya  adalah pembacaan shalawat yang dulu begitu marak, kini mulai berkurang. Melubernya media sosial yang seolah tanpa batas ditengarai menjadi penyebab menyusutnya kegiatan pembacaan shalawat di tengah-tengah masyarakat. Tontonan dan hiburan apapun saat ini bisa diakses dengan begitu mudah dan cepat, bahkan hanya lewat gawai.

 

“Karena itu, peringatan Maulid Nabi Muhamamd perlu kita jadikan momentum untuk merevitalisasi kecintaan kita kepada beliau,” ujar Ketua Pengurus Cabang (PC) Ikatan Sarjana Nahadlatul Ulama (ISNU) Jember, H Hobri. 

 

Hal tersebut disampaikannya saat memberikan ceramah dalam peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Masjid Baitul Muttaqin, Kelurahan Karangrejo, Kecamatan Sumbersari Jember, Senin (18/10).

 

Menurut Hobri, muludan tidak seperti memperingati hari ulang tahun manusia biasa. Sebab, Nabi Muhammad adalah manusia agung dan luar biasa. Karena itu, muludan yang sejatinya adalah menelusuri kilas balik perjalanan Nabi Muhammad  SAW untuk diambil hikmahnya sebagai obor bagi umat Islam dalam mengarungi belantara kehidupan.

 

“Dengan mengingat kisah hidup Nabi yang itu sebagian diceritakan dalam shalawat (barzanji), diharapkan kecintaan kita kepada Nabi Muhammad semakin besar. Sebab Nabi Muhammad telah banyak berkorban dalam membangun peradaban,” terangnya. 

 

Ketua Dewan Pendidikan Kabupaten Jember  itu menukil seorang ulama ahli hadits, Ibnu Hajar al-Asqalani bahwa dalam memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW adalah dengan empat hal. Yaitu membaca Al-Qur’an, bersedekah, memberikan  makan orang, dan mengagungkan Nabi Muhammad SAW serta bershalawat kepadanya.

 

“Khusus nomor 4 (membaca shalawat) banyak sekali balasannya. Bershalawat satu kali, Allah membalasnya dengan 10 kali pahala,” urai dia.

 

Hobri mengimbau Nahdliyin agar tak menghiraukan suara-suara yang menyatakan bahwa Muludan tidak penting karena tidak ada perintah agama. Katanya, suara itu terbantah dengan sendirinya jika mengacu kepada Al-Qur’an dan Hadits.

 

“Sebab, di Al-Qur’an maupun hadits jelas ada perintah untuk membaca shalawat kepada Nabi Muhammad. Pembacaan shalawat adalah inti dari peringatan maulid Nabi. Sedangkan mengenai buah-buahan dan sebagainya dalam acara muludan itu adalah sedekah sebagai rasa syukur atas kelahiran Nabi Muhammad,” terangnya.

 

Sementara itu, Ketua Takmir Masjid  Baitul Muttaqin, Ustadz Syamsul menyatakan, pihaknya secara rutin menggelar peringatan Maulid Nadi Muhammad sebagai salah satu cara  untuk mengingatkan masyarakat tentang pentingnya mengambil teladan dalam diri Rasulullah.

 

“Dengan muludan, kita menjadi ingat tentang sejarah Nabi, minimal kita membaca shalawat,” ungkapnya.

 

 

Penulis: Aryudi A Razaq
 

Terkait

Tapal Kuda Lainnya

terpopuler

rekomendasi

topik

Terkini