• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Sabtu, 21 Mei 2022

Risalah Redaksi

Mempertaruhkan Masa Depan NU kepada Kalangan Muda

Mempertaruhkan Masa Depan NU kepada Kalangan Muda
Tidak berlebihan kalau mempertaruhkan masa depan NU kepada Ansor dan Fatayat NU. (Foto: NUOJ)
Tidak berlebihan kalau mempertaruhkan masa depan NU kepada Ansor dan Fatayat NU. (Foto: NUOJ)

Bagaimana performa Nahdlatul Ulama saat ini, tentu sangat ditentukan bagaimana kalangan muda sebelumnya berproses dan diberikan kesempatan. Dengan jam terbang tinggi, kedekatan dengan beragam kalangan dan tentu saja kajian yang terus dilakukan sehingga jamiyah dapat mencapai prestasi membanggakan. 


Hukum yang sama tentu akan berlaku demikian untuk masa depan. Bahwa bagaimana NU di masa depan, tentu akan sangat bergantung di antaranya oleh anak muda saat ini. Mereka yang tentu saja akan meneruskan estafet organisasi sosial keagamaan ini di kemudian hari. Apalagi dalam waktu dekat memasuki usia satu abad, umur yang mensyaratkan kematangan dalam beradaptasi dengan beragam tantangan zaman.


Dan salah satu kalangan muda NU yang merayakan ulang tahunnya adalah Gerakan Pemuda (GP) Ansor dan Fatayat NU. Keduanya lahir pada 24 April dengan tahun berbeda. Ansor memasuki usia 88 tahun, sedangkan Fatayat NU di usia 72 tahun.


Kendati keduanya bukan merupakan menyuplai utama kader NU masa depan, namun mempertaruhkan masa depan kepada kalangan muda ini sangatlah beralasan. Karena seperti diketahui, setiap badan otonom memiliki proses kaderisasi yang khas sebagai sarana melakukan seleksi bagai para pengurus di kemudian hari. Jenjang yang harus dilewati calon fungsionaris antara Ansor dan Fatayat NU juga tidaklah sama, namun mengerucut kepada bahwa seluruh pengurus harus melewatinya dengan baik. 


Kondisi ini tentu saja sangat melegakan. Dalam artian, seluruh pengurus Fatayat NU dan Ansor di berbagai tingkatan dapat dipastikan melewati kaderisasi tersebut. Belum lagi pelatihan dan keterampilan tambahan dilakukan demi memastikan para kader dan selanjutnya pengurus memiliki wawasan dalam menyikapi perkembangan. Dengan demikian, semakin banyak kader Ansor dan Fatayat NU yang tidak semata jago kandang, tetapi juga bisa berbicara di pentas berbeda. 


Lewat seleksi yang demikian ketat dan sarat persyaratan yang harus dilalui, akhirnya sejumlah anak muda NU ini secara selektif menjadi kalangan yang dibutuhkan. Kiprah mereka bisa diterima dengan baik, dan akhirnya sangat layak berkiprah di berbagai sektor. Khidmah anak muda ini semakin luas, tidak semata di badan otonom yang ditekuni saat ini.


Dan pada saatnya, bukan tidak mungkin mereka kelak yang akan menjadi kalangan penting dalam perjalanan NU, termasuk saat ini. Mengapa banyak gerakan dan kiprah NU saat ini yang diterima khalayak, hal tersebut pastinya karena sumbangsih anak mudanya yang memang bisa membaca kondisi dengan baik. Menyampaikan ide yang dapat diterima anak muda, tanpa meninggalkan kalangan tua adalah kelebihan kiprah NU saat ini.


Tentu saja, performa ini hendaknya bisa terus dipertahankan dan ditingkatkan. Karena bukan tidak mungkin, negeri ini akan terus menunggu kiprah tersebut. Apalagi anak muda ini tidak terlihat menonjolkan kemampuan dirinya, namun semua melebur kepada performa NU. Seluruh kiprah yang dilakukan selama ini, mengerucut kepada khidmah jamiyah, sehingga keberadaan NU kian dirasakan manfaatnya oleh umat, bahkan dunia.


Apalagi kalau diperhatikan dengan seksama, bahwa sejumlah perbaikan internal dilakukan sejumlah badan otonom. Proses kaderisasi terus diupdate dengan pendekatan terbaru, demikian pula memanfaatkan teknologi dan informasi. Hal tersebut tentu saja membuat kiprahnya dapat diterima dengan performa yang membanggakan. Meski tentu saja dalam perjalanannya, untuk mencapai hal tersebut tidaklah mudah dan berjalan dengan mulus. Banyak tantangan dan beragam aral yang pastinya menjadi bagian tidak terpisahkan dari sebuah proses.


At-thariqatu ahammu minal maadah. Bahwa proses tentu saja lebih penting dari hasil. Kaderisasi dan tempaan zaman akan sangat menentukan kedewasaan kader dan organisasi di masa mendatang. Justru dengan proses yang berliku tersebut, maka akan lahir kader harapan yang tahan banting dan tentu saja siap dengan beragam hal yang tidak terduga sekalipun.


Dan tentu saja tidak berlebihan kalau kemudian masa depan NU antara lain dititipkan kepada Fatayat NU dan Ansor. Apalagi untuk kader perempuan telah disediakan kesempatan yang sama antara laki-laki dan perempuan. Sejumlah pengurus di tingkat Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) telah diisi oleh sejumlah perempuan yang memang memiliki kiprah terbaik.


Kondisi ini tentu saja bisa berlaku di lingkungan kepengurusan NU di bawahnya, meski akan menemukan kekhasan di setiap daerah. Namun, apa yang telah dilakukan PBNU pada masa khidmat ini memberikan sinyal bahwa tidak ada yang perlu diperdebatkan terkait kader laki-laki dan perempuan. Asalkan memiliki kiprah terbaik dan menjaga ritme, maka bukan tidak mungkin akan ditampung di kepengurusan NU.


Para pengurus NU adalah kader terbaik yang seleksinya bisa diawali dari badan otonom dan lembaga. Mereka yang telah teruji, sudah tentu diberikan kesempatan untuk tampil menjadi  pelayan umat di tingkatan NU. Berbekal tempaan selama di lembaga dan badan otonom, mereka bisa langsung klop dengan kiprah yang kepengurusan yang ada. Dan hal ini tentu saja menjadi sangat ideal untuk menghindari kader simsalabim yang belum mengetahui jeroan NU yang sesungguhnya. Karena banyak hal yang hendaknya diperhatikan oleh pengurus saat berkhidmat agar tidak menciderai performa jamiyah. Dan hal tersebut tentu saja ada dan dimiliki oleh mereka yang telah berproses sebelumnya di lembaga maupun badan otonom.


Demikian proses yang sebenarnya cukup ideal, dan dapat dilakukan NU di masa yang akan datang. Para pengurus, terutama di kepengurusan harian adalah kader pilih tanding yang telah ditempa dengan sedemikian rupa. Kala gagasan dan kiprahnya dibutuhkan, maka dapat segera didelegasikan kepada NU. Dengan demikian, yang bersangkutan tidak membutuhkan proses adaptasi yang lama, namun bisa langsung berbaur dan menyesuaikan dengan perjuangan yang tengah diperjuangkan.


Terkait proses seperti ini, ada baiknya mengenang kalimat penting yang sering disampaikan, bahwa pemuda hari ini adalah pemimpin untuk masa yang akan datang. Dan tidak berlebihan dan sangat tepat kalau kemudian dikemukakan bahwa dari Fatayat NU dan Ansor, maka masa depan jamiyah dipertaruhkan. Karenanya, kalau kemudian kedua badan otonom ini melakukan sejumlah perubahan pada kaderisasinya dan melakukan aneka kegiatan demi meningkatkan keterampilan dan kepekaan anggota, tentu saja harus didukung. Karena dengan pengalaman itulah, kelak mereka dapat semakin berkiprah dengan khidmat terbaik. 


Di ulang tahun ke 72 bagi Fatayat NU dan 88 tahun GP Ansor kita terus pantau dan nantikan kiprah terbaik para kadernya. Karena dari merekalah akan terlihat bagaimana masa depan NU dalam jangka pendek dan panjang. Tidak semata berpikir untuk kepentingan badan otonom, juga NU secara lebih luas. Selamat berharlah dan terus berproses kepada kader Ansor dan Fatayat NU.  


Risalah Redaksi Terbaru