• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Jumat, 19 Agustus 2022

Tokoh

Agustus, Ingat 3 Ulama Peraih Gelar Pahlawan Nasional

Agustus, Ingat 3 Ulama Peraih Gelar Pahlawan Nasional
Saat bulan Agustus, saatnya mengenang kiprah ulama yang mendapat gelar pahlawan nasional. (Foto: NOJ/KLy)
Saat bulan Agustus, saatnya mengenang kiprah ulama yang mendapat gelar pahlawan nasional. (Foto: NOJ/KLy)

Pada bulan Agustus ini, nuansa kemerdekaan demikian terasa. Banyak jalan, rumah, tempat ibadah dan kantor mengubah penampilan. Dan di momentum istimewa tersebut sudah selayaknya umat Islam khususnya Nahdliyin atau warga Nahdlatul Ulama mengenal sekaligus mengenang para ulama. Mereka juga ditetapkan sebagai pahlawan nasional.


3 di antara ulama dan pegiat pesantren memperoleh gelar pahlawan nasional karena dedikasi dan khidmatnya demi kemajuan bangsa.


1.  KH As’ad Syamsul Arifin

KH As’ad Syamsul Arifin salah seorang kiai berperang melawan penjajah. Ia menjadi pemimpin para pejuang di Situbondo, Jember maupun Bondowoso. 


Di masa revolusi fisik, Kiai As'ad menjadi motor yang menggerakkan massa dalam pertempuran melawan penjajah pada 10 November 1945. Selepas kemerdekaan Kiai As'ad adalah penggerak ekonomi-sosial masyarakat. Ia menyerap aspirasi dari warga kemudian mendorong pemerintah daerah, menteri, maupun presiden guna mewujudkan pembangunan yang merata. 


Kiai As'ad juga berperan menjelaskan kedudukan Pancasila tidak akan mengganggu nilai-nilai keislaman dan atas jasa-jasanya,  mendapat anugerah pahlawan pada 9 November 2016.  


2. KH Syam’un

Dirinya merupakan pengurus NU di Serang, Banten. Pernah hadir di Muktamar NU keempat di Semarang pada 1929, pada Muktamar NU kelima di Pekalongan 1930 dan pada Muktamar NU kesebelas di Banjarmasin pada 1936. 


KH Syam'un selain alim dalam keilmuan, menguasai tiga bahasa asing dan pernah mengajar di Arab Saudi pada masa mudanya. Ketika kembali ke Tanah Air, bergabung dengan kelaskaran dengan pernah menjadi perwira tentara sukarela Pembela Tanah Air (Peta). 


Pernah menjadi Komandan Batalyon berpangkat daidancho atau mayor tahun 1943. Tahun 1944 dilantik jadi Komandan Batalion PETA berpangkat mayor, memimpin 567-600 orang pasukan. Dan saat TKR dibentuk 5 Oktober 1945, pangkatnya naik jadi kolonel, Komandan Divisi l TKR dengan memimpin 10.000 orang pasukan. Tahun 1948 naik pangkat brigadir jenderal dengan memimpin gerilya di wilayah Banten, sampai wafatnya tahun 1949. 

Ia ditetapkan sebagai pahlawan nasional oleh pemerintah RI pada 8 November 2018.  


3. KH Masykur

KH Masjkur adalah tokoh Nahdlatul Ulama pernah menjadi anggota Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). Di antara kontribusinya semasa hidup adalah ikut terlibat merumuskan Pancasila sebagai dasar negara. 


KH Masjkur juga tercatat selaku pendiri Pembela Tanah Air (Peta) yang kemudian menjadi unsur laskar rakyat dan TNI di seluruh Jawa. Ketika pertempuran 10 November 1945, namanya muncul sebagai pemimpin Barisan Sabilillah. 


Ia pernah menjadi Menteri Agama Indonesia pada 1947 hingga 1949 dan 1953 sampai 1955. Juga anggota Dewan Perwakilan Rakyat RI periode 1956 sampai 1971 dan anggota Dewan Pertimbangan Agung pada 1968. 

 

Artikel diambil dari9 Tokoh NU Bergelar Pahlawan Nasional


Selain itu, Kiai Masjkur ikut serta membangun moral anak bangsa dengan mendirikan Yayasan Sabililah, lembaga masyarakat yang bergelut di bidang pendidikan. Kemudian ditetapkan pemerintah sebagai pahlawan nasional oleh pemerintah pada 8 November 2019.


Editor:

Tokoh Terbaru