• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Sabtu, 29 Januari 2022

Tokoh

Kiai Taufik, Pencetus Metode An-Nashr Terjemah Al-Quran

Kiai Taufik, Pencetus Metode An-Nashr Terjemah Al-Quran
Kiai Muhammmad Taufik sedang mengajari santri-santrinya. (Foto: Istimewa)
Kiai Muhammmad Taufik sedang mengajari santri-santrinya. (Foto: Istimewa)

Malang, NU Online Jatim

Kiai Muhammmad Taufik merupakan tokoh pencetus metode An-Nashr yang digunakan untuk menerjemah Al-Qur’an.

 

Ia adalah putra dari sepasang petani bernama Mad Sair dan Misti yang lahir di Malang pada 4 Februari 1974. Bersama istrinya, Vita Mutoharoh, ia memiliki 4 anak. Masing-masing adalah Rifki Husaini, Anisah Adiana, Arini Al-haq, dan Robi’ah Adawiyah.

 

Kiai Taufik mengenyam pendidikan formal dan informal. Ta'allum pendidikan non formal yang pernah dijalani di antaranya nyantri di Pondok Pesantren Al-Huda selama 6 tahun.

 

Sedangkan pendidikan formalnya, di antaranya ditempuh di STAI Raden Rahmat atau saat ini telah menjadi Universitas Raden Rahmat (Unira) Malang dengan jurusan Pendidikan Agama Islam untuk program strata satu (S-1). 

 

Kiai Taufik pernah menjabat sebagai Sekretaris Pimpinan Anak Cabang (PAC) Ansor Wajak, Wakil Ketua Pimpinan Cabang (PC) Ansor Kabupaten Malang, Wakil Sekretaris Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Malang, Sekretaris Pengurus Cabang (PC) Lembaga Pendidikan (LP) Ma’arif NU Kabupaten Malang, dan Ketua PC LP Maarif NU Kabupaten Malang.

 

Kiai Taufik merupakan sosok yang mandiri dan pekerja keras dalam hidupnya. Pada tahun 1993, ia memutuskan untuk bekerja ke Jakarta setelah menuntut ilmu di Pondok pesantren Al Huda. 

 

Ia menikahi menikahi Vita Mutoharoh pada tahun 1996. Setelah menikah, Kiai Taufik masih melanjutkan untuk bekerja di Jakarta hingga tahun 2006. Ia bekerja sebagai distributor kedua untuk penjualan keripik dari Lumajang.

 

Ketika ada waktu luang untuk pulang ke kampung halaman, Kiai Taufik mengajar ngaji di Malang. Disela kesibukannya, ia selalu berusaha menyempatkan waktunya untuk membaca buku dan belajar.

 

Hingga suatu saat, ia mempunyai keinginan untuk memulai mengajar di kampung halamannya dan memutuskan untuk mendirikan TPQ pada tahun 2008.  

 

Perjuangan Kiai Taufik dalam mencetuskan metode An-Nashr dimulai pada tahun 1999. Hal ini bermula ketika ia mempunyai keinginan untuk mencari bagaimana cara untuk bisa membaca Al-Qur’an. Selain itu juga bisa memahami kandungan makna dalam Al-Qur’an.

 

Kiai Taufik mendapatkan inspirasi untuk mencari metode menerjemah Al-Qur’an setelah membaca dua kitab, yakni Mu’jam Mufahros lil Alfadhil Qur’an dan Al Burhan fi Ulumil Qur’an.

 

Sebelum menemukan metode An-Nashr, proses pencarian metode yang tepat telah dilakukan oleh Kiai Taufik selama beberapa kali. Namun pada saat dilakukan uji coba metode-metode tersebut belum cukup membantu dengan baik.

 

Hingga akhirnya pada tahun 2004, Kiai Taufik mulai menemukan metode An-Nashr dan melakukan uji coba metode tersebut kepada tujuh anak. Dengan usia termuda lima tahun dan tertua berusia 16 tahun.

 

Penamaan An-Nashr dalam metode tersebut dipilih karena mempunyai arti pertolongan. Hal ini diharapkan agar setiap pembelajaran akan selalu mendapat pertolongan dari Allah. 

 

Pembelajaran dilakukan sebanyak dua kali setiap hari. Setelah lima tahun pembelajaran, ketujuh anak tersebut telah menyelesaikan pembelajaran 30 juz dan mampu menerjemahkannya. Baik per-kata maupun per-ayat dengan baik. 

 

Kiai Taufik mulai memutuskan untuk berjuang mendirikan dan mengembangkan pendidikan non formal. Setelah penemuan metode An-Nashr dan proses uji coba telah selesai, ia mendirikan TPQ di kampung halamannya pada tahun 2008. Selanjutnya, dalam proses pendirian pesantren, Kiai Taufik pada mulanya mempunyai 25 santri.

 

Pondok pesantren An-Nashr sekarang sudah berusia lima tahun. Jumlah santrinya telah mencapai kurang lebih 200 santri. Namun, santri yang boleh mengikuti pembelajaran di pesantren secara penuh hanya santri minimal sudah kelas 4 Madrasah Ibtidaiyah.

 

Pondok pesantren An-Nashr juga tidak menerima santri yang tidak berkenan bermukim di pesantren. Sedangkan untuk pemebelajaran di TPQ berlangsung sejak tahun 2008 hingga saat ini.

 

Selain pendidikan non formal, Kiai Taufik juga mendirikan beberapa pendidikan formal. Setelah didirikannya TPQ, ia mulai mempertimbangkan bagaimana cara santri TPQ agar bisa mendapatkan pendidikan agama dan doktrin yang tepat dalam pendidikan formalnya.

 

Sehingga pada tahun 2010, setelah melalui berbagai pertimbangan maka dibentuklah MI An-Nashr. Di mana pembentukan madrasah tersebut diharapkan bisa mengantarkan ilmu agama yang sejalan di tingkat pendidikan formal.

 

Namun, pada akhirnya ada beberapa masukan dari para wali murid mengenai kelanjutan pembelajaran metode An-Nashr jika para murid telah lulus dari MI tersebut. 

 

Dikarenakan para wali murid menyayangkan apabila pembelajaran metode An-Nashr tersebut hanya berhenti sampai anaknya lulus MI. Setelah adanya beberapa masukan dari wali murid tersebut, maka Kiai Taufik memutuskan untuk membangun SMP An-Nashr pada tahun 2017. Dilanjutkan pada tahun 2019, Kiai Taufik mendirikan MA An-Nashr.

  

 Setelah melalui berbagai proses dan perjalanan dalam perjuangannya, saat ini Kiai Taufik telah mendapat beberapa pencapaian dalam hidupnya. Di antaranya beliau pernah mendapatkan prestasi sebagai pemenang Santri Awards Kabupaten Malang pada Hari Santri pertama pada tahun 2019.

 

Saat ini ia merupakan pengasuh pondok pesantren An-Nashr Wajak. Disamping itu, Kiai Taufik saat ini juga menjabat sebagai Ketua Yayasan An-Nashr Wajak.

 

Penulis: Adira Lizaria Khafshoh


Editor:

Tokoh Terbaru